Bagi beberapa pembaca, Bioteknologi merupakan bidang ilmu yang tidak begitu asing karena sejak masa sekolah dasar pun sudah mulai diperkenalkan, contohnya saja pembuatan roti, tape dan sebagainya. Namun dalam blog ini, saya lebih menggambarkan bioteknologi sebagai pemanfaatan prinsip–prinsip dan perekayasaan terhadap organisme, sistem, ataupun proses biologis untuk menghasilkan atau meningkatkan potensi organisme maupun menghasilkan produk dan jasa bagi kepentingan hidup manusia.
Oleh karena itu, dalam blog ini akan membahas bioteknologi lebih kepada hal perekayasaan suatu organisme. Dalam hal ini kita akan lebih banyak membahas mengenai rekayasa genetik dan rekayasa bioproses. "Apa? Rekayasa Genetik? Apakah itu dibolehkan?" Pertanyaan tersebut selalu jadi bahan yang menarik dan layak untuk diperbincangkan #tsaaah.
Untuk beberapa organisme, rekayasa genetik ini diperbolehkan. Contohnya saja merekayasa gen tanaman, jenis alga, ikan hias, dan bakteri. Apakah itu melanggar kodrat Tuhan? Itu mengubah ciptaan Tuhan? Nah, di sini lah pro-kontra banyak dimunculkan. Para peneliti menanggapi bahwa perekayasaan genetik dan bioproses pada organisme tertentu masih dalam level yang wajar. Kenapa dikatakan wajar? Beberapa mengatakan bahwa para peneliti hanya mengubah sangat sedikit dalam tubuh organisme tersebut. Mereka memperbaiki sifat genetik organisme tersebut tidak secara besar-besaran. Dan para peneliti kebanyakan melakukannya pada tanaman. Apa yang mereka ubah dari tanaman itu? Mereka mengubah beberapa sifat genetiknya. Contohnya, padi yang rentan terhadap kondisi kekeringan mereka perbaiki dengan menyisipkan gen tahan kekeringan ke dalam tanaman padi tadi sehingga tanaman padi tersebut dapat tumbuh secara normal walaupun dalam kondisi kekurangan air. Contoh lainnya pun sudah sangat banyak, misalnya penyisipan gen untuk meningkatkan produksi, tahan hama, tahan penyakit, tahan kondisi bergaram (salin), dan lain-lainnya.
Bagaimana bila dilakukan di hewan dan di manusia? Nah, saat ini seluruh dunia masih belum memperbolehkan rekayasa genetik pada hewan dan manusia. Kenapa? karena adanya larangan Tuhan untuk mengubah pemberiannya pada diri kita, manusia. Contohnya mengubah warna bola mata, warna kulit, dan sebagainya. Bagaimana jika kita ingin mengubah gen yang menyebabkan penyakit turunan pada manusia dan hewan? Bukankah itu samasaja dengan hal yang dilakukan pada tanaman tadi? Nah, banyak statement kontra terhadap hal ini. Yang pertama, tadi, karena itu sama halnya mengubah ciptaan Tuhan. Tapi pada tanaman kenapa hal itu dilakukan? Karena beberapa mengatakan bahwa tanaman sangat berbeda dengan manusia dan hewan. Untuk mengubah genetik manusia misalnya, manusia sangat takut dijadikan percobaan untuk penelitian ini. Dan berbeda pada tanaman. Tanaman dengan mudah dimusnakan dan ditumbuhkan lagi bila percobaan mereka gagal. Banyak hal yang menentang adanya rekayasa tersebut pada manusia dan hewan. Mulai dari hal tadi, proses penyisipan gennya, hingga setelah proses penyisipan gen dilakukan, semuanya memunculkan banyak pertanyaan apakah hal tersebut aman untuk dilakukan.
Maka dari itu, saat ini untuk rekayasa genetik dan bioproses banyak dilakukan contohnya pada tanaman, bakteri, jenis alga, dan ikan hias.
Oleh karena itu, dalam blog ini akan membahas bioteknologi lebih kepada hal perekayasaan suatu organisme. Dalam hal ini kita akan lebih banyak membahas mengenai rekayasa genetik dan rekayasa bioproses. "Apa? Rekayasa Genetik? Apakah itu dibolehkan?" Pertanyaan tersebut selalu jadi bahan yang menarik dan layak untuk diperbincangkan #tsaaah.
Untuk beberapa organisme, rekayasa genetik ini diperbolehkan. Contohnya saja merekayasa gen tanaman, jenis alga, ikan hias, dan bakteri. Apakah itu melanggar kodrat Tuhan? Itu mengubah ciptaan Tuhan? Nah, di sini lah pro-kontra banyak dimunculkan. Para peneliti menanggapi bahwa perekayasaan genetik dan bioproses pada organisme tertentu masih dalam level yang wajar. Kenapa dikatakan wajar? Beberapa mengatakan bahwa para peneliti hanya mengubah sangat sedikit dalam tubuh organisme tersebut. Mereka memperbaiki sifat genetik organisme tersebut tidak secara besar-besaran. Dan para peneliti kebanyakan melakukannya pada tanaman. Apa yang mereka ubah dari tanaman itu? Mereka mengubah beberapa sifat genetiknya. Contohnya, padi yang rentan terhadap kondisi kekeringan mereka perbaiki dengan menyisipkan gen tahan kekeringan ke dalam tanaman padi tadi sehingga tanaman padi tersebut dapat tumbuh secara normal walaupun dalam kondisi kekurangan air. Contoh lainnya pun sudah sangat banyak, misalnya penyisipan gen untuk meningkatkan produksi, tahan hama, tahan penyakit, tahan kondisi bergaram (salin), dan lain-lainnya.
Bagaimana bila dilakukan di hewan dan di manusia? Nah, saat ini seluruh dunia masih belum memperbolehkan rekayasa genetik pada hewan dan manusia. Kenapa? karena adanya larangan Tuhan untuk mengubah pemberiannya pada diri kita, manusia. Contohnya mengubah warna bola mata, warna kulit, dan sebagainya. Bagaimana jika kita ingin mengubah gen yang menyebabkan penyakit turunan pada manusia dan hewan? Bukankah itu samasaja dengan hal yang dilakukan pada tanaman tadi? Nah, banyak statement kontra terhadap hal ini. Yang pertama, tadi, karena itu sama halnya mengubah ciptaan Tuhan. Tapi pada tanaman kenapa hal itu dilakukan? Karena beberapa mengatakan bahwa tanaman sangat berbeda dengan manusia dan hewan. Untuk mengubah genetik manusia misalnya, manusia sangat takut dijadikan percobaan untuk penelitian ini. Dan berbeda pada tanaman. Tanaman dengan mudah dimusnakan dan ditumbuhkan lagi bila percobaan mereka gagal. Banyak hal yang menentang adanya rekayasa tersebut pada manusia dan hewan. Mulai dari hal tadi, proses penyisipan gennya, hingga setelah proses penyisipan gen dilakukan, semuanya memunculkan banyak pertanyaan apakah hal tersebut aman untuk dilakukan.
Maka dari itu, saat ini untuk rekayasa genetik dan bioproses banyak dilakukan contohnya pada tanaman, bakteri, jenis alga, dan ikan hias.