Minggu, 29 November 2015

Malam yang selalu Dirindukan

Aku mengagumi mentari pagi
sedang kau merindukan sosok senja..
Tapi kita satu dalam setiap malam
Kau tau malam mana kah itu?

Kita mengarungi jalan yang sama
Kau dengan rindumu
dan aku dengan segala rasa percaya
Kau tau malam mana kah itu?

Setiap hembus nafas adalah pahala
Setiap gerak adalah berkah
Setiap kata adalah amin
Kau tau malam mana kah itu?

Malam dimana doa-doa kita bertemu
Malam yang membuat hati kita menyatu walau berbatas
sepertiga malamku
sepertiga malammu..

yang mungkin akan menjadi tak berbatas untuk kita miliki
kecuali mungkin oleh kematian..

Sabtu, 28 November 2015

Satu Hari di Bulan Juni

Dia menunggu di depan pintu
Dia rapih namun kaku
Kalian duduk bersama
sembari melihat bunga-bunga yang ia telah tanam

Namun tak kau rasa
Ia melihatmu tajam namun penuh harapan
Kau juga tak kunjung sadar
Kau lari dan duduk di bangku sebelah

Kau masih pada masa lalu
Kau buka memori usang
yang bagimu tak pernah usang

Kau peluk lirih ingatanmu
yang bagimu itu bahagiamu
Dan kau lihat mentari yang muncul dibalik deretan bunga itu
Mentari yang kau rindukan

Bukan hanya kau yang merindu
namun bunga-bunga itu pun merindu
merindukan sosok mentari
yang memberi banyak harapan di setiap awalan hari..

Ratih

Diam dalam cinta
Diam dalam hal yang belum pasti
Diam dalam doa

Apa yang kau takutkan, Ratih?
Apakah kau takut kekasihmu pergi?
Bukankah cintamu hadir dari Tuhan?
Lalu apakah yang kau takutkan?

Sudahlah,
Tuhanmu menjaganya
Tuhanmu menyatukanmu
dalam ruang yang lebih indah

Apa yang kau takutkan?
Kau takut akan rasa cintamu hilang?

Namun ingat, Tuhanmu Maha Cinta..
Takkan habis rasa cinta untukmu..

Apa lagi yang kau takutkan, Ratih?
Jarak dan waktu bukan penghalang untuk menyatu.


Jumat, 23 Oktober 2015

Layu bersama Bahagia

Malam makin larut, Luna tidak mampu terlelap. Ia terjaga hingga pagi. Ia tak sedang memikirkan apapun. Tak sedang mengerjakan apapun. Ia hanya duduk lalu kadang berbaring. Entah apa yang ia rasakan. Mungkin ia gelisah. Akhirnya ia menarik selimut dan menutupi seluruh tubuhnya. Namun tak kunjung pula ia terlelap. 
***
Keesokan harinya Luna kembali berusaha untuk terlelap. Namun entah perasaan gelisahnya mulai bertambah. Luna merasa seperti berada di tengah laut yang hanya bersama dengan sekoci. Terombang ambing mengikuti ombak. Hanya bertemankan butiran-butihan buih. Tak ada tepian yang terlihat. Tak ada kapal lain. Ia hanya seorang diri.
***
Hari berikutnya Luna mulai bisa memenjamkan matanya. Terpejam walau hanya beberapa menit. Gelisahnya pun mulai mereda. Guling kesayangannya pun tak ia lepas. Namun tiba-tiba air matanya memaksa ia untuk segera bangun dari tidur. Entah itu air mata bahagia atau kesedihan. Ia lalu meneguk air agar tenang.
***
Hari-hari berikutnya, Luna mulai makin terlelap. Matahari menjemput Luna di balik tirai kamarnya. Dibukanya sedikit tirai itu. Nampak sosok pria jakung berkulit putih baru sedang berbenah barang di depan rumahnya. Luna melihat dengan seksama. pria itu tetangga barunya. Pria itu melihatke arah jendela Luna. Dengan cepat Luna menutup tirainya. 
***
Sudah seminggu Luna tidak keluar dari rumahnya. Selasa, 11 November 2014, Luna harus bergegas menuju tempat kerjanya. Ia harus mempersiapkan pakaian-pakaian terbaru untuk acara fashion untuk dua minggu kedepan.
***
Luna melangkah keluar dari rumah. Dia melihat pria jakung itu kembali. Pria itu sedang membereskan mobilnya. Luna cepat dalam setiap langkahnya. Namun, suara asing terdengar, "Lunaaa..". Luna berbalik, dan hanya nampak pria itu. Luna tak yakin pria itu yang memanggil namanya. Lalu Luna hanya tersenyum kemudian berbalik dan segera naik ke bus yang berada di depannya. 
***
Luna menghitung tiap detak detik jam tangannya. Ia sedang duduk menunggu sahabatnya. Sesekali ia meneguk teh yang ia pesan. "Luna, Sorry, Am  I late?". Luna tersenyum dan mereka menghabiskan waktu mereka dengan perbincangan yang begitu hangat. 
"Lunaa..?" Suara yang sepertinya tidak asing bagi Luna. Luna menoleh ke kiri. Ia melihat pria tetangga barunya itu duduk tepat di sebelah meja mereka. Luna kali ini  tak tersenyum sedikitpun. Dahinya pun terlihat agak mengerut. Luna pasti sedang memikirkan siapa pria ini. 
"Hi Lun. You forget me? Kita memang sudah lama tak melanjutkan percakapan di aplikasi perkenalan itu..". Seketika Luna tersenyum dan mengingat siapa pria ini. Akhirnya mereka berada dalam meja yang sama. Luna, Karina (sahabat Luna), Tam (Teman chat Luna), dan Yoga (teman Tam). 
"Lun, kita pulang bareng aja. Rumah kita kan sudah kayak pasangan yang lagi ngedate. Hadap-hadapan maksudnya.". Luna pun tertawa. Yoga dan Luna pun pulang bersama. 
***
"Lun, setelah jam kantor, boleh kita mengobrol di cafe seberang kantor kamu?". Luna membaca isi pesan di ponselnya, namun tanpa nama. Luna meng-iya-kan. Akhirnya Luna bertemu dengan sang pemilik pesan. "Hai, Lun, How was your day?" - "Ya, tak buruklah. Kamu gimana, Yoga?"
Yoga, sahabat Tam, telah lama mengenal Luna. Yoga mengenal Luna sejak mereka bertemu dalam acara seminar dua tahun lalu. Mereka dulunya berada di Universitas yang sama. 
***
Hampir setiap hari Luna dan Yoga bertemu dan mengobrol seusai jam kerja mereka. Mereka nampaknya cocok. Kini Luna sudah melupakan kegelisahan yang membuatnya sulit untuk terlelap. Kini dia merasakan kembali lelapnya tidur.
***
"Lun, Sabtu besok sibuk gak?" - Pesan Yoga masuk ke ponsel Luna. Namun Yoga tak kunjung mendapat balasan dari Luna. Sembari menunggu balasan dari Luna, Yoga menyimpan seikat bunga mawar dalam vas yang berisi air yang sesekali ia sentuh. 
***
"Luna, apa kabar?" - Yoga mengirimkan pesan kedua pada Senin. Namun tak ada juga balasan dari Luna.
"Tam, kamu pernah bertemu dengan Luna akhir-akhir ini?" - Yoga mencoba menanyakan pada Tam melalui telepon. Namun Tam juga belum pernah bertemu dengan Luna lagi. Dua jam kemudian Tam menelpon Yoga. Yoga berlari masuk ke dalam mobil lalu menancap gas. 
"Luna, pantas saja kamu tak pernah mengabariku.." Suara Yoga bergetar memandang Luna yang terbaring. Luna nampak terlelap seperti sedang bermimpi. 
"Tiga minggu lalu Luna mengaku sulit untuk tidur. Namun empat hari yang lalu dia nampak senang dan sudah bisa tidur dengan nyaman. Dan sudah tiga hari ini dia belum membuka matanya. Kata dokter Luna koma karena cairan di otaknya nampaknya sudah mengganggu penglihatan Luna dan sekarang Luna tidak sadarkan diri" - Ibu Luna berusaha tegar menceritakannya kepada kami yang menjenguk Luna di rumah sakit.
***
Dua hari telah berlalu, belum ada kabar membahagiakan dari keadaan Luna. Yoga menuju ke mobil membawa seikat bunga mawar yang ia taruh dalam vas waktu itu. Bunga itu sudah layu. Layu dan tak ada aroma manis lagi padanya.
Sesampainya di rumah sakit, Yoga bergegas menuju depan kamar inap Luna. Semua orang menunduk dan mengeluarkan air mata. Luna telah tertidur lelap untuk selamanya. Tidur lelap yang didambakan Luna benar-benar lelap hingga benar-benar ia tak bisa membuka mata lagi.
Seketika suasana menjadi begitu hening. Hanya ada air mata yang mengalir.
Yoga kembali ke mobil. Ia duduk sejenak untuk tenang. 
Tam berlari mengikuti Yoga, lalu ikut masuk ke dalam mobil. "Di percakapan kami setahun yang lalu itu, Luna selalu bercerita sejak lama ia ingin mengenalmu lebih jauh namun ia belum pernah bertemu denganmu lagi. Dan kini, ia sudah. Kamu pun sahabatku, yang aku baru saja tau kalau pria yang dimaksud Luna adalah kamu ketika kita semua dipertemukan di cafe itu. Tuhan sudah merencanakan perjalanan kalian. Seperti bunga ini. Kamu simpan dan jaga ia baik-baik, namun Tuhan berkata lain. Bunga ini lebih bahagia layu. Seperti Luna, mungkin ia lebih bahagia untuk terlelap yang ia maksudkan setelah ia bertemu dengan orang yang ia dambakan yang mungkin sering ia sebutkan dalam doanya."

*tamat   

Sabtu, 17 Oktober 2015

Bersahabat dengan Orang yang Jauh Lebih Tua. Kenapa tidak?

"Become friends with people who aren’t your age. Hang out with people whose first language isn’t the same as yours. Get to know someone who doesn’t come from your social class. This is how you see the world. This is how you grow."
(via paigechanel4)

                                   (Photo by Suherah Saleh, 2014).


Banyak orang yang mengatakan  bahwa tidak mudah untuk berkomunikasi dengan orang yang tidak sejaman dengan kita. Kita lahir di era 90-an, mereka ada di era 60-an, atau di era yang lainnya. Siapa bilang kita tidak sejaman dengan mereka? Sekarang kita berada di era yang sama. Hanya karena alasan rentang umur yang sangat jauh, kita menganggap mereka tak bisa sehebat ataupun segaul kita.
***
Ketika kita bertemu dengan seseorang yang terlihat seumur dengan orangtua kita dan mengobrol tentang sesuatu, beberapa di antara kita pasti berbisik dalam hati, "Pemikiran orang ini kok kolot amat, jaman sekarang masih pake cara kayak gitu. Gak jaman coy.." Oke, kita boleh berpendapat seperti itu, tapi apakah kita akan menolak semua tanggapannya?
Sama halnya ketika kita berdiskusi dengan teman-teman sebaya. Kita kadang tidak sependapat dengan perkataan mereka karena hal ini atau hal itu. Dan terkadang kita salah mengambil kesimpulan.
***
Pernahkah kita berdiskusi panjang mengenai sesuatu hal bersama ibu atau ayah atau tante atau om kita atau orang lain yang kita anggap jauh lebih tua dari kita? Bagi  yang sering, pasti sangat merasakan manfaat dari sharing bersama mereka.
***
Biasanya di antara teman-teman kita ada yang sering diejek anak mami, sok tua, muka boros, ataupun lainnya. Dan memang terkadang yang mereka  sering berikan adalah pendapat yang benar. Dan saya pun punya teman semasa duduk di bangku SMP yang sikapnya sama. Setelah saya kepo baik-baik, ternyata dia sering berdiskusi dengan kedua orangtuanya mengenai apapun. Hingga membuat kepribadiannya menjadi tampak lebih dewasa dibandingkan kami teman-temannya.
Karena menganggap teman saya itu terlihat cool bukan 'muka boros' seperti yang dikatakan teman-teman lainnya, saya mengikuti cara dia yang sering share dengan orangtua, sampai-sampai tante saya pun saya ajak untuk berdiskusi ketika datang ke rumah. - Ketika nonton tv bersama, mengomentari hal-hal yang ditonton dan saling mengemukakan pendapat. Dan benar, saya lebih banyak bisa berpendapat dibandingkan dengan teman-teman lainnya. Rasanya lebih percaya diri untuk berbicara dan berpendapat.
***
Sharing dengan orang yang jauh lebih tua memang banyak baiknya. Pengetahuan kita bertambah dan kemampuan kita untuk berpendapat pun meningkat. 
***
Hingga akhirnya saya masuk ke perguruan tinggi negeri strata satu. Berkenalan dengan teman-teman dari berbagai daerah asal. Tidak hanya teman-teman sebaya, saya pun berkenalan dengan pegawai-pegawai kampus yang pernah saya temui. Hingga akhirnya ketika saya menjadi sarjana dan mengunjungi kampus, saya masih punya teman baik untuk diajak  mengobrol di tempat yang saya kunjungi. Beberapa teman pun pernah berbisik, "Han, kamu itu kenapa bisa seakrab itu dengan mereka?". "Yah, kampuslah yang mengakrabkan kami.."
***
Membuat sebuah pertemanan tidak memerlukan syarat umur.
***
Setelah lulus, saya mengikuti pelatihan di suatu institusi. Ketika masuk ke dalam kelas, tadaaaaaa, teman-teman baru. Tebak saja, teman baru saya siapa....
Pelatihan ini diadakan sama halnya kita sedang mengikuti perkuliahan. Dan teman-teman baru saya adalah dosen-dosen hebat, manager, bahkan profesor pun ada. Seketika pun saya merasa hebat berada di ruangan itu. 
Karena merasa kami berada dalam posisi yang sama, yaitu sebagai peserta, langsung saja saya berusaha mengakrabkan diri. Hingga akhirnya mereka menjadi teman yang sangat baik walaupun pelatihan telah berakhir. Sampai kini pun kami masih sering berkomunikasi walaupun bidang dan umur kita sangatlah jauh berbeda. 
***
Sekali lagi, umur bukanlah syarat untuk membuat suatu pertemanan yang luar biasa.
Berteman dengan mereka yang jauh lebih tua justru banyak manfaatnya. Salah satunya, sering ditraktir.. hehehee...
***
Mereka juga sahabat bagi generasi muda.

Share, Discuss, Stay connected

Senin, 21 September 2015

Calon Madrasah Pertama Bagi Mereka kelak..

"Perempuan untuk apa sih sekolah tinggi-tinggi kalau ujungnya jadi ibu rumah tangga juga..?"
Mungkin diantara kita pernah mendengarkan bahkan menanyakan hal itu. 
Tidak sedikit orang yang beranggapan bahwa wanita hanya memiliki kodrat untuk mengurus rumah tangga, suami dan anak.
"Wanita tidak butuh skill dan background pendidikan yang tinggi untuk mengurus rumah tangga, mereka hanya harus pandai bekerja di dapur, memasak, mencuci, membersihkan rumah, dan lainnya..". Pernyataan ini pun membuat saya tergugah untuk menulis kembali ke blog ini.
Memang benar, wanita harus pandai dalam mengurus rumah tangganya, suami dan anak-anaknya. Tapi untuk menciptakan kondisi rumah tangga yang baik dan nyaman, menjadikan anak-anaknya menjadi anak yang soleh dan solehah serta cerdas mereka membutuhkan skill dan pengetahuan yang banyak. 
Mungkin beberapa orang pernah membaca ataupun mendengar bahwa madrasah pertama anak-anak kita adalah kita, ibu mereka. Untuk memberikan ilmu dan pengetahuan yang baik bukankah madrasah yang mereka punya harus berkualitas baik? Bahkan kita berusaha memberikan kualitas yang sangat baik.
Sebelum memasuki masa sekolah, ibu merupakan guru pertama bagi mereka. Apa yang mereka lihat dan dengar setiap hari dari ibunya merupakan pembelajaran baru bagi mereka. Buah takkan jatuh jauh dari pohonnya. Itu mungkin menjadi penggambaran yang tepat.
Bagi wanita, seharusnya belajar merupakan hal yang tidak boleh lepas dari diri mereka. Mereka adalah pemberi saran dan kenyamanan bagi suaminya, guru pertama dan guru yang setia bagi anak-anaknya, mereka adalah pencipta kenyamanan dalam rumah tangga mereka.
Karena saya bergerak pada bidang genetika, perlulah semua calon ibu tahu bahwa  mereka memiliki faktor genetik bagi kecerdasan anak-anaknya. 
Kembangkan potensi sebagai wanita untuk membuat anak-anak menjadi cerdas. Pendidikan yang tinggi bukanlah hal yang tabuh bagi wanita. 

Sudahkah Anda belajar hal-hal baru hari ini?


Selasa, 15 September 2015

Cinta dalam Secangkir Kopi dan Coklat Hangat

Aku penikmat coklat, kamu penikmat kopi. Kamu suka coklat, namun tak sesuka pada kopi. Aku pun sama, aku suka kopi namun tak sesuka saat aku meneguk coklat. Mungkin karena sering bersama-sama, aku menjadi seperti ini. Cangkir coklatku yang dulu dingin dan kosong, kini terisi dan hangat kembali. Terima kasih telah mengisi dan menghangatkan kembali.
Rasanya tak ingin cepat-cepat menghabiskan  kopi ataupun cokelat hangatku saat bersama. Walaupun aku tau, aku sangat ingin untuk meneguknya di setiap detik.
Apa lagi ketika kita duduk bersama hujan. Kombinasi yang sempurna bagi kita berdua sebagai penikmat petrichor.

***

Berikan aku rintik hujan, coklat hangat, dan hadirmu.. -HanPay

Senin, 14 September 2015

Terima Kasih

"Terima kasih banyak atas bantuannya, pak, bu, mas, mba, .."
'Terima kasih', kata yang cukup sulit diungkapkan oleh kebanyakan orang. Entah itu karena gengsi atau karena terlalu bahagia sampai lupa untuk berterimakasih.
Semenjak saya menginjakkan kaki di kota hujan, orang-orang sekitar saya banyak mengajarkan kepada saya bagaimana cara berkomunikasi dengan orang-orang kota ini. Ya, jujur saja, saya yang berasal dari kota Daeng pun masih kaku untuk berkomunikasi untuk 6 bulan pertama. Sebulan pertama pun saya masih banyak diam karena beradaptasi dan belajar bagaimana kebiasaan orang-orang kota ini. 
"Terima kasih,bapaaak.." ucapan ceria Ipi sambil memberikan karcis masuk ke salah satu satpam kampus. Ipi adalah sahabat saya di kota ini. Kebetulan, dia orang asli sini. Bagi saya, Ipi  mengajarkan banyak banyak banyak hal. 
Tidak hanya Ipi, beberapa teman lainnya pun bahkan dosen sendiri sudah terbiasa mengucapkan kata 'terima kasih'. Karena terbiasa dengan ucapan itu, setiap hari pasti tidak terlepas dengan terima kasih.
Ya, memang seharusnya, apa lagi berterima kasih kepada Tuhan. Nah, kalau itu memang wajib.
Sebelum saya ke kota ini pun saya sering menyampaikan rasa terima kasih saya kepada orang-orang yang telah membantu saya. Namun kota ini mengajarkan lebih dari itu. Mengajarkan bahwa setiap orang, siapa pun itu, baik ia lebih tua ataupun lebih muda, sekecil apapun yang mereka berikan, penghargaan terhadap sesamapun harus tetap selalu ada. 
Dan saya sangat merasakan dampak dari berterima kasih setiap hari. Orang-orang menjadi lebih care, dan mood pun (tentu saja) ikut terbangun.
Tak ada alasan untuk tidak mengatakan 'terima kasih'. Satu ucapan yang bisa membuat hari kita lebih baik. Bahkan jauh lebih baik.

Sudahkah hari ini kita mengucapkan terima kasih kepada mereka? :)



Minggu, 23 Agustus 2015

Are you my stalker? Do I care?

“I have a stalker, a beautiful one: the sunset. Every day she’s there, watching me, whether I watch her or not.” 
― Jarod KintzThis Book Has No Title


Are you a stalker? Kalau jaman sekarang orang-orang kadang memaknai stalker sebagai 'pe-KEPO'. Setiap orang setidaknya memiliki satu stalker. Ada stalking yang positif maupun yang negatif. Negatif? Ya, salah satunya nge-stalking kegiatan orang karena rasa ketidaksukaan terhadap orang tersebut. Tidak suka? Ya ngapain jadi stalker? Nah itu dia, beberapa stalker tidak sadar dengan hal itu. Bahkan para stalker tersebut berkoar-koar menyinggung dan menjatuhkan yang ia anggap sebagai saingan atau musuh mereka. 
Beberapa pernah merasakan hal seperti itu di-stalk dan dibuatkan statement menyindir. Dan tak banyak yang tidak sadar akan kelakuan makhluk stalker tersebut. Terkadang saya menyadari beberapa orang melakukan stalk terhadap kegiatan saya bahkan mengeluarkan statement yang tidak menyenangkan. Lalu saya berbuat apa? 
Saya akui, saya juga kadang menjadi stalker namun hanya sebatas silent reader, apalagi nge-stalk statement stalker yang sering mengeluarkan statement tentang saya. Ya, tapi saya tetaplah menjadi silent reader. Melihat dan menilai, Instropeksi diri. Belajar dari sikap orang lain. Bahwa saya tidak pantas untuk menanggapi hal semacam itu. Jika saya menanggapi berarti saya telah gagal menjadi orang yang terdidik.

Oh, iya ..  Are you a stalker of my activities? :p

Kamis, 20 Agustus 2015

Gene Therapy : Hemofilia (FVII)

Latar Belakang
Darah manusia pada kondisi fisiologis disimpan sebagai cairan dalam sistem yang disebut homeostasis. Dalam kondisi normal, sekresi endotel vaskular seperti heparin  dan molekul trombomodulin mencegah pembekuan darah dan sekresi oksida nitrat dan prostasiklin mencegah agregasi platelet sehingga darah membawa cairan terus menerus. Homeostasis memiliki tiga tahap: vasokonstriksi, pembentukan sumbat trombosit dan pembekuan darah. Pembekuan darah adalah reaksi saat zymogens plasma menjadi enzim aktif yang menghasilkan reaksi pembekuan. Reaksi koagulasi akan diatur dengan mekanisme penghambatan dan stimulasi. Koagulasi adalah proses regulasi yang membuat darah mengalir. Koagulasi darah memiliki dua jalur eksternal dan internal (Gambar 1). Faktor jaringan dan FVII membentuk jalur eksternal, jalur internal dibentuk dari FVIII, FIX dan FXI (Ramanarayana et al., 2011; Ellison, 1977). 
Defisiensi faktor VII adalah gangguan perdarahan bersifat genetis yang disebabkan oleh masalah dengan faktor VII. Karena tubuh memproduksi lebih sedikit faktor VII dari seharusnya, atau karena faktor VII tidak bekerja dengan baik, reaksi pembekuan diblokir secara prematur dan bekuan darah tidak terbentuk. Defisiensi faktor VII adalah gangguan resesif autosomal, yang berarti bahwa kedua orang tua harus membawa gen yang rusak untuk menyebarkannya ke anak mereka. Ini juga berarti bahwa gangguan mempengaruhi baik pria dan wanita. Defisiensi faktor VII sangat jarang, tapi seperti semua gangguan autosomal resesif, ditemukan lebih sering di daerah di dunia di mana pernikahan antara kerabat dekat biasa terjadi (WFH, 2012).
Defisiensi faktor VII (FVII) merupakan kelainan perdarahan yang jarang, karena perubahan genetik dari gen FVII (F7) (Fromovich et. al., 2004). Kelazimannya secara signifikan lebih tinggi di daerah di mana pernikahan kerabat terjadi. Kekurangan FVII diwariskan sebagai gangguan resesif autosomal dan memiliki estimasi prevalensi 1: 500 000 orang. Ada sekitar 250 mutasi yang dijelaskan dalam Human Gene Mutation Database (HGMD) dan dalam International Society of Thrombosis dan database Haemostasis berkaitan dengan defisiensi ini (International Society on Thrombosis and Haemostasis, 2011).
Hemofilia telah ditemukan sejak lama. Talmud, yaitu sekumpulan tulisan para rabi Yahudi, 2 abad setelah masehi menyatakan bahwa seorang bayi laki-laki tidak harus dikhitan jika dua kakak laki-lakinya mengalami kematian akibat dikhitan. Selain itu, seorang dokter asal Arab, Albucasis, yang hidup pada abad ke-12 menulis tentang sebuah keluarga yang setiap anak laki-lakinya meninggal setelah terjadi perdarahan akibat luka kecil. Pada tahun 1803, Dr. John Conrad Otto, seorang dokter asal Philadelphia menulis sebuah laporan mengenai perdarahan yang terjadi pada suatu keluarga tertentu saja. Ia menyimpulkan bahwa kondisi tersebut diturunkan hanya pada pria. Ia menelusuri penyakit tersebut pada seorang wanita dengan tiga generasi sebelumnya yang tinggal dekat Plymouth, New Hampshire pada tahun 1780. Kata hemofilia pertama kali muncul pada sebuah tulisan yang ditulis oleh Hopff di Universitas Zurich, tahun 1828. Dan menurut ensiklopedia Britanica, istilah hemofilia (haemophilia) pertama kali diperkenalkan oleh seorang dokter berkebangsaan Jerman, Johann Lukas Schonlein (1793 - 1864), pada tahun 1928. Hemofilia juga disebut dengan "The Royal Diseases" atau penyakit kerajaan. Ini di sebabkan Ratu Inggris, Ratu Victoria (1837 - 1901) adalah seorang pembawa sifat/carrier hemofilia. Anaknya yang ke delapan, Leopold adalah seorang hemofilia dan sering mengalami perdarahan. Leopold meninggal dunia akibat perdarahan otak pada saat ia berumur 31 tahun.Salah seorang anak perempuan Victoria yaitu Alice, ternyata adalah carrier hemofilia dan anak laki-laki dari Alice, Viscount Trematon, juga meninggal akibat perdarahan otak pada tahun 1928. Alice dan Beatrice, adalah carrier dan merekalah yang menyebarkan penyakit hemofilia ke Spanyol, Jerman dan Keluarga Kerajaan Rusia (Sudoyo, 2007).
Pada abad ke 20, pada dokter terus mencari penyebab timbulnya hemofilia. Hingga mereka percaya bahwa pembuluh darah dari penderita hemofilia mudah pecah. Kemudian pada tahun 1937, dua orang dokter dari Havard, Patek dan Taylor, menemukan pemecahan masalah pada pembekuan darah, yaitu dengan menambahkan suatu zat yang diambil dari plasma dalam darah. Zat tersebut disebut dengan "anti - hemophilic globulin". Di tahun 1944, Pavlosky, seorang dokter dari Buenos Aires, Argentina, mengerjakan suatu uji coba laboratorium yang hasilnya memperlihatkan bahwa darah dari seorang penderita hemofilia dapat mengatasi masalah pembekuan darah pada penderita hemofilia lainnya dan sebaliknya. Secara kebetulan, ia menemukan dua jenis penderita hemofilia dengan masing-masing kekurangan zat protein yang berbeda Faktor VIII dan Faktor IX. Dan hal ini di tahun 1952, menjadikan hemofilia A dan hemofilia B sebagai dua jenis penyakit yang berbeda. Kemudian di tahun 1960-an, cryoprecipitate ditemukan oleh Dr. Judith Pool. Dr. Pool menemukan bahwa pada endapan di atas plasma yang mencair mengandung banyak Faktor VIII. Untuk pertama kalinya Faktor VIII dapat dimasukkan pada penderita yang kekurangan, untuk menanggulangi perdarahan yang serius. Bahkan memungkinkan melakukan operasi pada penderita hemofilia. Walaupun Hemofilia telah dikenal lama di ilmu dunia kedokteran, namun baru pada tahun 1965, diagnosis melalui laboratorium baru diperkenalkan oleh Kho Lien Kheng. Diagnosis laboratorium yang diperkenalkannya menggunakan Thromboplastin Generation Test (TGT), selain pemeriksaan waktu perdarahan dan masa waktu pembekuan darah. Pada saat itu pemberian darah lengkap segar merupakan satu-satunya cara pengobatan yang tersedia di rumah sakit (Sudoyo, 2007).

 PEMBAHASAN
A. Hemofilia
Darah pada seorang penderita penyakit hemofilia tidak dapat membeku dengan sendirinya Hemofilia berasal dari bahasa Yunani Kuno, yaitu “haima” dan “philia”. “Haima” berarti darah sedangkan “philia” berarti cinta atau kasih sayang. Penyakit hemofilia diturunkan dari ibu kepada anaknya pada saat sang anak tersebut dilahirkan. secara normal. Proses pembekuan darah pada penderita penyakit ini tidak secepat orang normal.


Gambar 1. Penurunan gen hemofilia pada anak dari ibu yang pembawa gen hemofilia

Penderita penyakit hemofilia, memiliki gangguan di sistem pembekuan darahnya. Mereka kekurangan faktor-faktor pembeku darah. Akibatnya, luka yang seharusnya mengering akan terus-menerus mengeluarkan darah. Atau pada kasus ringan luka tetap bisa mengering namun membutuhkan waktu yang lama. Kekurangan faktor-faktor pembeku darah ini lah yang menjadi penyebab hemofilia.
Sebanyak 70% hemofilia disebabkan karena faktor genetik. Bahkan sejak masih janin dalam kandungan seorang anak sudah dapat diprediksi mengalami penyakit hemofilia atau tidak. Caranya adalah dengan melakukan screening test.
Hemofilia telah diakui pada abad kelima SM, hukum pertama kaum Yahudi menyatakan bahwa ketika seorang wanita memiliki dua anak laki-laki yang tewas karena melakukan sunat, maka anak ketiga tidak harus disunat, mereka menunjukkan ibu akan menularkan penyakit ke anak-anaknya (Sejarah hemofilia 2011). Pola genetik dan keturunan hemofilia dengan cermat dijelaskan pada tahun 1803 oleh dokter Amerika John Conrad Otto. Dia menduga bahwa perdarahan itu terjadi karena kurangnya faktor darah anti hemophilic (Cahill & Colvin, 1997). Istilah hemofilia dikembangkan pada tahun 1828 di University of Zurich. Globin Anti-hemofilia ditemukan pada tahun 1937 oleh Patek dan Tylor di Harvard University (Sejarah Hemofilia Penyakit, 2011). Dua bentuk hemofilia A dan B dibedakan pada tahun 1952 oleh Pavlosky, dokter Brasil. Kedua penyakit sangat tergantung seks dan terjadi pada laki-laki (Cahill & Colvin, 1977).
Hemofilia dibagi ke dalam dua jenis, yaitu hemofilia A dan hemofilia B. Hemofilia A dikenal juga dengan nama hemofilia klasik. Jenis inilah yang paling banyak kekurangan faktor pembekuan darahnya. Faktor pembeku darah yang dimaksud adalah faktor VIII. Hemofilia A umumnya menyerang pria. Wanita pada umumnya hanya bersifat karier atau pembawa sifat. Wanita yang menderita penyakit hemofilia dikarenakan ibunya yang karier dan/atau ayahnya yang juga penderita.

B. Penyebab Hemofilia
Hemofilia adalah kelainan genetik yang terjadi pada koagulasi FVIII (hemofilia A) atau FIX (hemofilia B) dan terkait dengan kromosom X. Hemofilia A adalah penyakit yang disebabkan oleh cacat genetik pada koagulasi FVIII (Furie et al., 1994;. White & Shoemaker, 1989) Hal ini diidentifikasi oleh Hoyer dan Breckenridge (Hoyer & Breckenridge, 1968) dan kemudian oleh Denson untuk pertama kalinya (Denson et al., 1969). Mereka menunjukkan bahwa tidak ada FVIIIa dalam plasma dari kebanyakan orang yang hemofilia. Hemofilia B disebabkan oleh cacat genetik terjadi pada koagulasi FIX; kekurangan FIX akan menghambat aktivasi FX oleh FVIIa melalui jalur koagulasi eksternal (Furie et al., 1994; Thompson, 1986). Sekitar setengah Pasien yang menderita hemofilia A yang parah memiliki inversi besar dalam intron 22 dari FVIII mRNA mereka (Gambar 3) yang berulang (Arruda et al., 1995; Deutz-Terlouw et al., 1995; Okamoto et al., 1995; Pieneman et al., 1995; Van de Air et al., 1995; Goodeve et al., Jenkins et al., 1994; 1994;. Naylor et al., 1993; Naylor et al., 1992). Alel yang berbeda dari VNTR (dinukleotida) telah diamati dalam intron 13 FVIII pada orang yang hemofilia A (Kochhan et al., 1994).
Hemofilia A terjadi satu berbanding 5.000-10.000 untuk anak laki-laki dan hemofilia B satu berbanding 20.000-34.000 untuk anak laki-laki di hari kelahiran (Dimitrios et al., 2009). Pendarahan pada sendi pasien hemofilia (Petkova et al., 2004). Posisi gen FVIII adalah Xq28 dan FIX pada lokasi Xq27.1 di lengan panjang distal dari kromosom X (Gambar 4). Gen FVIII memiliki 186 kb terorganisir di 26 ekson (sekitar 9 kb) (Gambar 5). Terdapat deteksi beberapa mutasi gen pada FVIII sebagai insersi, penghapusan atau mutasi titik yang terlibat dalam mengurangi atau memotong aktivasi FVIII (Ramanarayana et al., 2011; Salviato et al., 2002; Cahill & Colvin, 1997; Arruda et al., 1995; Naylor et al., 1991; Higuchi et al., 1989; Youssoufian et al., 1987; Gitschier et al., 1985). FVIII terorganisir pada domain A, B dan C (Gambar 6), dimana domain B sangat terglikosilasi dan tidak terlibat dalam kegiatan FVIII (Eaton et al., 1986).

C. Diagnosis Hemofilia
Diagnosis laboratorium hemofilia dilakukan berdasarkan waktu paruh tromboplastin yang diaktifkan/ activated partial thromboplastin time (aPTT), waktu protrombin (PT), jumlah trombosit dan waktu perdarahan. Terdapat sesuatu yang abnormal di bagian awal jalur koagulasi internal aPTT yang berkepanjangan dan PT normal. aPTT normal yang seharusnya tidak menolak kekurangan FVIII (hemofilia A), tidak cukup sensitif untuk mengurangi jumlah FVIII C. Waktu Protrombin (PT) yang berkepanjangan saja, atau PT dan aPTT tidak menentukan hemofilia A, penyakit hati, overdosis warfarin atau heparin dan distribution intravascular coagulation (DIC) dapat menyebabkan coagulophaty. Trombositopenia sendiri tidak dapat menyebabkan hemofilia A. Sifat dan tingkat keparahan perdarahan ditunjukkan dengan cell blood counts (CBC) dan diferensiasi, serta pemeriksaan darah dalam tinja dan urin (Schwartz et al., 2011). Knights dan Ingram pada tahun 1967 menggunakan uji waktu tromboplastin untuk membedakan hemofilia A dan B. Berdasarkan uji tersebut ketika alumina ditambahkan ke plasma yang normal tidak terlihat bahaya dari FVIII, tapi FIX terhapus / hilang, dan penghilangan alumina plasma FIX akan terulang. Jika waktu tromboplastin meningkat pada laki-laki dengan riwayat perdarahan yang berkepanjangan, tes diulang setelah penambahan atau penghapusan alumina dari plasma. Jika waktu tromboplastin lebih pendek dari kontrol, berarti pasien sedang menderita hemofilia A, tetapi jika waktu tromboplastin dipersingkat setelah penghapusan alumina, pasien menderita hemofilia B (Knights & Ingram, 1967). Stites et al (1971) dan Essien dan Ingram (1967) membedakan hemofilia A dan B dengan antibodi penghambat FVIII.
Hasil tes pada anak-anak dan orang dewasa berbeda. Indeks pembekuan dan koagulabilitas pada pasien hemofilia secara signifikan lebih rendah daripada pasien non-hemofilia. Dalam tes ini, koagulabilitas FVIII diperlakukan dengan beragam darah dengan jenis FVIII yang berbeda-beda. Indeks pembekuan rFVIII lebih rendah dari plasma lain (Goldenberg et al., 2006). Firshein dan rekannya mendiagnosis hemofilia A prenatal  menggunakan radioimmunometer berdasarkan plasma janin dan fetoskop dengan cairan ketuban di triwulan kedua pada wanita hamil (Firshein et al., 1979), peneliti lain mengembangkan metode radoimmunometer untuk pengukuran antibodi FVIII (Hoyer et al., 1985; Hellings et al, 1982;. Ljung R, Holmberg, 1982). Antonarakis et al menganalisis gen FVIII untuk deteksi kemungkinan dari prenatal dan pembawa hemofilia melalui metode kloning gen (Antonarakis et al., 1985), masalah dan keterbatasan metode ini dievaluasi oleh peneliti lain (Graham et al., 1985). Metode PCR RFLP digunakan untuk diagnosis prenatal dan pembawa hemofilia A untuk pertama kalinya pada tahun 1990-an (Rudzki et al, 1996;.. Herrmann et al, 1988; Kogan et al, 1987;.). Mutasi titik missense dan nonsense pada gen FVIII pasien hemofilia A, prenatal dan pembawa hemofilia A terdeteksi dengan menggunakan metode DGGE (Gitschier, 1989). Ball dan rekannya menggunakan sampel sel mulut/oral, urin dan folikel rambut untuk mengidentifikasi prenatal dan pembawa hemofilia A (Ball et al., 1990). Berbagai polimorfisme dan mutasi telah terdeteksi dalam gen FVIII pasien hemofilia A (Wacey et al, 1996 'Antonarakis et al, 1995;. Naylor et al, 1991;. Baranov et al, 1990;. Gécz et al, 1990;. Jedlicka et al, 1990;. Sadler et al, 1990;. Surin et al, 1990;.. Wehnert et al, 1990a;. Wehnert et al, 1990b). Penetapan teknik PCR di laboratorium diagnosa adalah perubahan besar dalam analisis DNA dari gen FVIII untuk mendeteksi pembawa/karier dan individu yang memiliki hemofilia A (Lagu et al, 1993;. Feng, 1991;. Wadelius et al, 1991; Wu, 1991). Deteksi mutasi yang tidak diketahui ditunjukkan dengan metode sistem deteksi mutasi universal seperti SSCP (Arruda et al, 1995;. Pieneman et al, 1995;. David et al., 1994). Diagnosis hemofilia dengan metode PGD digunakan oleh Michaelides (2006) dan rekannya untuk pertama kalinya pada tahun 2006; mereka mendiagnosis dua mutasi titik dalam gen FVIII dari blastomer donor (IVF). Ditemukannya hemofilia yang dikarenakan autoantibodi FVIII adalah penyakit langka dan terjadi satu dalam satu juta, tahunan; dan kematian sebesar 20 persen (Shetty et al., 2010).

D. Perlakuan untuk Hemofilia A
Pengobatan hemofilia dilakukan dengan mengganti FVIII alami (Brackmann & Gormsen, 1977) atau rekombinan (Kaufman, 1991) melalui injeksi intravena. Waktu paruh FVIII yang ditransfusikan pada individu normal atau pasien dengan hemofilia adalah 8 sampai 12 jam (White & Shoemaker, 1989). Penggunaan protein serum rekombinan dalam pengobatan hemofilia dimulai pada tahun 1990 (Liras, 2008), tetapi HomateP/humat-P adalah plasma manusia yang diperoleh dari pasteurisasi yang telah disetujui di Jerman pada tahun 1981 dan menggunakan suntikan intravena yang diberikan selama 25 tahun untuk mengontrol perdarahan penderita hemofilia A dan penyakit von Willebrand (Berntorp, 2009; Carter & Scott, 2007; Czapek et al, 1988). Pengobatan hemofilia adalah menciptakan antibodi penghambatan yang melawan FVIII yang diamati 5% pada pasien dengan hemofilia B dan 40 -20% pada pasien dengan hemofilia A yang parah. Antibodi penghambat komplikasi tampaknya menghasilkan bersama plasma yang diturunkan FVII parah daripada dengan rekombinan lainnya (Lusher, 2002; Lusher, 2000), juga dengan FVIII (Qadura et al, 2009; Delignat et al, 2007; Goudemand et al, 2006; Yoshioka et al, 2003; Fijnvandraat et al, 1997). Epitop sel B bermutasi, antibodi penghambatan FVIII yang diproduksi berkurang, dan beberapa orang mengusulkan bahwa fenomena ini adalah vaksin yang aman bagi penderita hemofilia (Parker et al, 2004). Produksi antibodi terhadap FVIII telah dipelajari pada pasien hemofilia dan menunjukkan bahwa sebagian besar mutasi nonsense dan penghapusan besar dalam gen FVIII dan rekombinasi kromosom berperan dalam menghasilkan antibodi penghambat FVIII (Schwaab et al., 1995). Pengobatan hemofilia dengan pemberian over dosis FVIII efektif untuk produksi antibody pada pasien hemofilia (Scandella et al., 2000).
OBI (BDD- rpFVIII) diperkenalkan oleh Ipsen dan Inspiration Biopharmaceuticals Inc Company dan melewati fase uji klinis 1 dan 2. Ini menunjukkan sifat biokimia FVIII dari babi dan aktivitas prokoagulan dan imunogenisitas  yang kurang dibandingkan plasma yang diperoleh pFVIII (Toschi, 2010).
Pada tahun 1960 Pusat Darah Palang Merah Los Angeles memperlakukan pasien hemofilia menggunakan globin anti hemofilik (Rapaport et al., 1960). 1-Deamino-8-d-arginine vasopressin (DDAVP) (a FVII autologous) telah digunakan sebagai pengganti faktor yang diturunkan plasma untuk perawatan hemofilia A dan B (Mannucci et al., 1977). Hultin dan rekan menggunakan siklofosfamid sebagai obat imunosupresi untuk pasien hemofilia yang memproduksi antibodi (Hultin et al., 1976). Lian et al. memperlakukan hemofilia menggunakan siklofosfamid, vinkristin dan prednison (CVP) (Lian et al., 1989). Blatt et al menghilangkan antibodi penghambatan FVIII dengan konsentrat kompleks protrombin (PCC) (Blatt et al., 1977). Paleyanda dan rekan memindahkan cDNA FVIII ke dalam sistem laktat babi; babi memproduksi lebih banyak dibanding plasma normal (Paleyanda et al., 1997). Bivalirudin antikoagulan Trombin spesifik (Krolick, 2005) dan Retoximab antibodi monoklonal (Franchini, 2007;. Wiestner et al, 2002) juga digunakan untuk pengobatan hemofilia dan pasien dengan autoantibodi FVIII. Vaksin Idiotype akan menetralisir anti antibodi FVIII manusia pada pasien hemofilia A (Lacroix-Desmazes et al., 2002).
Produksi dan karakterisasi FVIII rekombinan untuk pengobatan hemofilia dilakukan pada tahun 1984 untuk pertama kalinya (Toole et al, 1984;.. Wood et al, 1984). Penggunaan protein rekombinan untuk menggantikan faktor penggumpalan darah dan pengobatan hemofilia membuka peluang dalam pengobatan penyakit. Faktor sirkulasi darah adalah obat protein rekombinan generasi pertama dan generasi kedua yang dibuat oleh teknologi DNA dan rekayasa protein rekombinan menyebabkan perubahan protein untuk aplikasi tertentu, seperti FVIIa (Levy & Levi, 2009; Pipa, 2008). FVII sendiri atau kombinasi dengan analognya telah digunakan untuk mengurangi perdarahan (Lauritzen el al, 2008a;.. Lauritzen et al, 2008b;. Allen et al, 2007). Penggunaan FVIIa rekombinan untuk pasien hemofilia dengan antibodi FVIII (Obergfell et al, 2010;. Margaritis, 2010;. Margaritis et al, 2010), juga orang-orang yang memiliki perdarahan sendi atau mencegah pendarahan dalam operasi ini efisien secara ekonomi (Stephens et al ., 2007).

E. Terapi Gen Hemofilia A
Untuk pertama kalinya pada tahun 1996, Connelly dkk mengobati anjing hemofilia intravena dengan adenovirus yang mengandung gen hFVIII di mana protein terkait terdeteksi dalam plasma selama dua minggu (Connelly et al., 1996a). Connelly dan rekan menginjeksikan adenovirus yang mengandung gen BDD- hFVIII melalui arteri ekor ke dalam tikus; hFVIII terdeteksi dalam plasma dengan menggunakan metode ELISA (Connelly et al, 1999;. Connelly et al 1995.). Dwarki dan rekan mentransfer fibroblast dengan retrovirus yang mengandung gen BDD- FVIII, fibroblas yang tertransfer dipindahkan ke dalam tikus, FVIII manusia diamati dalam plasma setelah satu minggu (Dwarki et al., 1995). Connelly dkk memindahkan adenovirus yang mengandung gen hFVIII ke dalam tikus, hFVIII stabil pada tikus selama lima bulan. (Connelly et al., 1996b). Ill dkk menyiapkan plasmid yang cocok dengan unsur-unsur yang diperlukan untuk ekspresi FVIII di sel-sel hati (Ill et al., 1997). Zhang et al menyusun mini-adenovirus yang mengandung FVIII-dilengkapi promotor gen albumin manusia untuk terapi gen hemofilia A. Struktur ini dipindahkan ke sekuen sel; hFVIII secara konsisten dihasilkan pada tikus yang ditransfer sekuen belut (Zhang et al., 1999). Terapi gen hemofilia dilakukan dengan sel hati yang ditransfeksikan dengan adeno associated virus atau virus lentiviral yang mengandung FVIII dan FIX.
Penggunaan vektor non-viral juga perlu dipertimbangkan. Produksi antibodi dalam terapi gen hemofilia dengan FVIII dan FIX dapat bergantung pada serotipe vektor (virus), tingkat ekspresi (lama, terutama pada hati), promotor yang digunakan, metode pengiriman gen dan jenis sel yang tertransduksi (Margaritis et al ., 2009; Ohmori et al, 2008;.. VandenDriessche et al, 2003;. Chuah et al, 2001).
Untuk mengatasi fenomena toksisitas adenovirus, Andrews dan rekannya menggunakan adenovirus dengan memasukkan gen awal E1, E2A, E3, E4, dan memasukkan promotor albumin yang dikendalikan oleh gen FVIII ke dalam tikus, tetapi tidak cocok untuk digunakan in vivo (Andrews et al., 2001). Chuah et al menghambat perdarahan pada tikus SCID  hemofilia A menggunakan injeksi intravena adenovirus yang membawa gen BDD -FVIII (Chuah et al., 2003). Shi et al percaya bahwa trombosit adalah target untuk terapi gen hemofilia A, mereka memasukkan platelet spesifik glikoprotein IIb yang dilengkapi promotor BDD hFVIII ke sel Domi, hFVIII itu dibiosintesis (Shi et al., 2003). Sarkar dan rekan memindahkan AAV yang membawa hFVIII untuk tikus kekurangan FVIII melalui portal, suntikan intravena dan limpa, mereka mengamati hFVIII dikeluarkan pada hewan transgenik tetapi tidak ada pada hewan yang baru lahir (Sarkar et al., 2003). Scallan et al memindahkan gen FVIII ke dalam tikus dengan vektor AAV2. Konstruksi dilengkapi dengan promotor spesifik sel hati (Scallan et al., 2003). Kang dan rekan menggunakan promotor spesifik hati yang dilengkapi FIV retrovirus yang mengandung gen BDD- hFVIII untuk injeksi intravena pada tikus hemofilia, hFVIII itu dikeluarkan pada tikus selama berbulan-bulan tanpa produksi antibodi anti FVIII (Kang et al., 2005). Kumaran et al memperlakukan tikus hemofilia dengan terapi sel, campuran hepatosit, sinusoid endotelium hati dan sel-sel Kupffer hati yang disuntikkan ke selaput perut tikus, FVIII diamati dalam darah tikus (Kumaran et al., 2005).
Jiang et al memindahkan FVIII ke anjing hemofilia dengan menggunakan AAV tipe 2, 5, 6 dan 8, laporan mereka menunjukkan bahwa kinerja jenis virus 2 dan 5 untuk terapi gen lebih dari virus tipe 6 dan 8 (Jiang et al., 2006). Sarkar et al percaya bahwa durasi terapi gen pada anjing dengan AAV8 yang mengandung FVIII telah diperpanjang hingga dua tahun (Sarkar et al., 2006). Terapi gen yang tahan lama berdasarkan AAV yang mengandung FVIII juga telah dilaporkan dengan McCormack dan rekan (McCormack et al., 2006). Temuan Shi dan rekan menunjukkan bahwa ekspresi gen FVIII yang ditargetkan oleh promotor spesifik trombosit efektif dalam pengobatan hemofilia A (Shi et al., 2006).
Shi dan rekan menunjukkan bahwa ekspresi ektopik dari FVIII dalam trombosit dengan virus lentiviral melalui terapi gen sumsum tulang efektif untuk pengobatan hemofilia manusia. Mereka menginfeksikan vektor lentiviral yang mengandung FVIII yang diinduksikan dengan promoter spesifik-trombosit glikoprotein IIb ke dalam sumsum tulang tikus, sekresi permanen FVIII dalam lisat trombosit tikus telah diamati (Shi et al., 2007). Liu dan rekan menargetkan rDNA hepatosit HL7702 dengan pHrneo vektor non-viral yang mengandung gen FVIII untuk pengobatan hemofilia (Liu et al., 2007). Doering telah mentransfer gen FVIII babi ke dalam sel mesenkim sumsum tulang tikus untuk pengobatan hemofilia (Doering, 2008). Ishiwata dan rekan telah memperlakukan tikus hemofilia dengan menggunakan vektor AAV8 yang mengandung gen anjing BDD -FVIII (Ishiwata et al., 2009). Sabatino dan rekannya menunjukkan bahwa gigi taring anjing BDD- FVIII stabil daripada BDD- FVIII manusia, maka dapat dipertimbangkan dalam pengobatan hemofilia (Sabatino et al., 2009). Doering et al memindahkan hFVIII - sFVIII hybrid ke  stem cell hematopoietik dengan vektor lentiviral; Sel mengekspresikan FVIII lebih dari 8-100 kali dibandingkan dengan sel yang ditransfeksikan dengan hFVIII saja (Doering et al., 2009).
Zatloukal dan rekannya menunjukkan bahwa FVIII yang diekspresikan akan diamati jika adenovirus yang mengandung fibroblast FVIII ditransfeksikan atau mayoblasts berpindah ke sel hati atau limpa, tetapi tidak pada sel otot yang ditransfeksikan (Zatloukal et al., 1995). Karena tidak ada perbaikan fenotipik yang dapat diterima tikus hemofilia, Liars menggunakan teknologi terapi stem cell potensial pluri yang diinduksi, sel-sel ini mengkonversi ke dalam semua sel dan dapat ditransfeksikan oleh AAV rekombinan atau vektor lentiviral (Liars, 2011). Studi yang dilakukan sejauh ini menunjukkan bahwa terapi gen faktor darah dengan AAV pada otot hewan (anjing dan tikus) adalah sehat untuk FIX, tapi tidak cukup banyak keberhasilan untuk FVIII (Haurigot et al, 2010;. Wang & Herzog, 2005). Hal ini diyakini bahwa koreksi klinis hemofilia B tergantung pada dosis transfer vektor ke otot inang (tikus dan anjing) (Hagstrom et al, 2000;. Kay et al., 2000).

F. Terapi Gen Hemofilia dengan faktor VII
FVII yang diaktifkan digunakan sebagai faktor VII rekombinan (rFVII) yang dapat menuju ke sekitar proses koagulasi tergantung FVIII dan FIX (Mackman et al., 2007), hal ini membantu pembekuan darah melalui jalur ekstrinsik. Ini adalah pilihan ideal dalam pengobatan pasien dengan FVIII yang memproduksi antibodi dan pasien hemofilia yang harus diperhatikan (Johannessen dkk, 2000;. Lauritzen et al, 2008a.). FVII digunakan dalam operasi pasien dengan hemofilia A (Lauritzen et al, 2008a.) juga efektif dalam jangka proses homostatic  (Hedner et al, 2000;. Kenet et al., 1999). VIIA (Novoseven; rhFVIIa) telah mencapai sukses besar dalam merawat pasien dengan hemofilia. Pada kerusakan FVIII atau FIX atau adanya antibodi penghambatan, kompleks faktor jaringan FVIIa akan mengaktifkan koagulasi FX. FVIIa dapat mengaktifkan koagulasi kaskade yang menyebabkan pembentukan bekuan dan perdarahan dihambat (Hong & Stachnik, 2010; Levy & Levi, 2009).
Masalah obat yang utama adalah waktu paruh pendek (3-6 jam) dan harganya tinggi (Ramanarayana et al, 2011;. Puetz, 2010; Agerso et al, 2011;.), Lebih dari satu dosis penuh obat, terutama untuk homeostasis regulasi selama operasi diperlukan. Oleh karena itu, kelompok penelitian di seluruh dunia sedang mencoba metode yang berbeda dari transfer gen untuk mengekspresikan FVIIa stabil dalam sel tanpa perlu administrasi/memasukkan ulang obat (Ramanarayana et al., 2011). Setelah biosintesis rhFVII sebagai zymogen, itu akan dipotong oleh protease dan aktif secara biologis melalui proses pemurnian (Huntington, 2009). Protein yang dihasilkan akan rusak pada Arg152 dan Ile153 untuk FVIIa. Maka diusulkan agar transfer gen FVII menghilangkan waktu pendek produksi antibodi penghambatan rFVII dan FVIII (Ramanarayana et al., 2011). Emamgholipour et al (2009) dan Margaritis (2010) menetapkan situs pencernaan enzim furin antara Arg152 dan Ile153 untuk menghasilkan FVIIa dari FVII zymogene memecah dalam sel yang ditargetkan selama strategi terapi gen FVII (Gambar 7). Margaritis dan rekannya berhasil memperbaiki anjing hemofilia B dengan metode ini (Margaritis et al., 2004). Margaritis dan rekan menyuntik tikus melalui terapi gen oleh AAV yang mengandung gen FVII, FVII diproduksi dalam sel inang (Margaritis et al., 2004). Miller et al menyuntik myoblasts otot tikus dengan plasmid yang mengkodekan cDNA FVIII dan FVII (elemen tertentu otot dan poli A ditempatkan di kedua sisi gen); kemudian mengamati FVII dan antibodi yang terkait setelah 4-5 hari. 
Mereka percaya bahwa proses modifikasi pasca translasi itu terjadi pada sel-sel otot (Miller et al., 1995). Tomokiyo dan koleganya menunjukkan bahwa komposisi plasma FVIIa dan FXA dalam pengobatan monyet hemofilia B lebih efektif daripada FVIIa saja (Tomokiyo et al., 2003). Ohmori dkk telah menggunakan ekspresi ektopik FVIIa dalam trombosit untuk pengobatan hemofilia A, mereka memindahkan SIV yang mengandung glikoprotein trombosit Ib alpha promotor spesifik ke dalam sel sumsum tulang, itu menyebabkan ekspresi FVII pada permukaan trombosit. Konstruksi ini mengoreksi fenotip tikus hemofilia (Ohmori et al., 2008). Margaritis telah memperlakukan hemofilia anjing dengan AAV yang mengandung FVII melalui vena portal (Margaritis et al., 2009). Untuk mengatasi masalah injeksi berulang, Obergfell dan rekan mempelajari pengobatan hemofilia dan ekspresi permanen yang disarankan FVII dalam model anjing hemofilia melalui metode terapi gen (Obergfell et al., 2010).
  
KESIMPULAN
Beberapa penelitian mengenai transfer gen FVIII dan FIX oleh vektor virus pada model binatang telah dilaporkan tetapi tidak ada bukti sejauh ini yang melaporkan mengenai keberhasilan pengobatan terapi gen hemofilia pada manusia. Para peneliti telah menggunakan FVII untuk mengatasi produksi antibodi dalam pengobatan defisiensi FVIII.
Metode yang diusulkan untuk kedepannya adalah meninjau terapi gen hemofilia dengan vektor virus. Beberapa alasan yang tidak dapat dipastikan dari penggunaan virus dalam mentransfer gen: 1) Penerapan virus yang dikaitkan dengan penyisipan kromosom yang cocok dan membuat mutasi titik yang tidak diinginkan (Nakai et al., 2003; Miller et al., 2002); 2) Virus bersifat karsinogen; 3) Virus akan menyebabkan respon imun pada inang (Lefesvre et al., 2003) yang menjadi transgen sementara; 4) Karena virus memiliki genom besar daripada vektor non-viral, sekuen dari virus tidak dapat dikontrol oleh peneliti; 5) Penyusunan vektor ini membutuhkan banyak waktu dan uang. Meskipun transfer gen non-viral kurang efisien daripada vektor virus tetapi telah diberitahu bahwa tidak ada kerugian yang ditampakkan dan penggunaannya dalam transfer gen pada manusia bisa lebih aman dibanding vektor virus.
Vektor yang disarankan adalah vektor non-viral dalam menargetkan lokus rDNA genom manusia dengan metode rekombinasi homolog dan sebagai transfer gen ex vivo pada manusia yang harus dilakukan dengan vektor.



DAFTAR PUSTAKA
Agersø H, Brophy DF, Pelzer H, Martin J, Carr M, Hedner U, Ezban M (2011). Recombinant human factor VIIa (rFVIIa) cleared principally by antithrombin following intravenous administration in hemophilia patients. J Thromb Haemost; 9(2): 333-338. ISSN: 1538-7933
Allen GA, Persson E, Campbell RA, Ezban M, Hedner U, Wolberg AS (2007). A variant of recombinant factor VIIa with enhanced procoagulant and antifibrinolytic activities in an in vitro model of hemophilia. Arterioscler Thromb Vasc Biol ;27(3):683-689. ISSN 1049-8834
Andrews JL, Kadan MJ, Gorziglia MI, Kaleko M, Connelly S (2001). Generation and characterization of E1/E2a/E3/E4-deficient adenoviral vectors encoding human factor VIII. Mol Ther; 3 (3):329- 336. ISSN: 1525-0016
Antonarakis SE, Waber PG, Kittur SD, Patel AS, Kazazian HH Jr, Mellis MA, Counts RB, Stamatoyannopoulos G, Bowie EJ, Fass DN, et al. (1985). Hemophilia A. Detection of molecular defects and of carriers by DNA analysis. N Engl J Med; 313(14): 842-848. ISSN 0028-4793
Antonarakis SE, Kazazian HH, Tuddenham EG (1995). Molecular etiology of factor VIII deficiency in hemophilia A. Hum Mutat; 5(1): 1-22. ISSN: 1059-7794
Arruda VR, Pieneman WC, Reitsma PH, Deutz-Terlouw PP, Annichino-Bizzacchi JM, Briët E, Costa FF (1995). Eleven novel mutations in the factor VIII gene from Brazilian hemophilia A patients. Blood; 86(8): 3015-3020. ISSN 0006-4971
Ball J, Warnock LJ, Preston FE (1990). Rapid assessment of haemophilia A carrier state by non-invasive techniques using the polymerase chain reaction. J Clin Pathol; 43(6): 505-507. ISSN:0021-9746
Baranov VS, Aseev MV, Gorbunova VN, Ivashchenko TE, Mikhaĭlov AV, Gornostaeva NI, Surin VL (1990). Use of molecular and genetic approaches in prenatal diagnosis and prevention of hemophilia A and Duchenne muscular dystrophy. Akush Ginekol (Mosk) ;(11): 26-28. ISSN: 0002-3906
Bartlett A, Dormandy KM, Hawkey CM, Stableforth P, Voller A (1976). Factor-VIII-related antigen: measurement by enzyme immunoassay. Br Med J; 1(6016): 994-996. ISSN: 09598138
Berntorp E.(2009). Haemate P/Humate-P: a systematic review. Thromb Res;124 Suppl 1: S11-4. ISSN:0049-3848 Blatt PM, White GC 2nd, McMillan CW, Roberts HR (1977). Treatment of anti-factor VIII antibodies. Thromb Haemost; 38(2): 514-523. ISSN:0340-6245
Brackmann HH, Gormsen J (1977): Massive factor-VIll infusion in haemophiliac with factor- VIll inhibitor, high responder. Lancet; 2: 933. ISSN: 0140-6736
Cahill MR, Colvin BT (1997). Haemophilia. Postgrad Med J; 73: 201-206. ISSN: 0022-3859 Carter NJ, Scott LJ (2007). Human Plasma von Willebrand Factor/Factor VIII Complex (Haemate(R) P/Humate-P(R)): In von Willebrand Disease and Haemophilia A. Drugs: 67 (10): 1513-1519. ISSN 0012-6667
Check E (2003). Cancer risk prompts US to curb gene therapy. Nature. Mar 6;422(6927):7. ISSN : 0028-0836
Chuah MK, Collen D, VandenDriessche T (2001). Gene therapy for hemophilia. J Gene Med; 3(1): 3-20. ISSN: 1099-498X
Chuah MK, Schiedner G, Thorrez L, Brown B, Johnston M, Gillijns V, Hertel S, Van Rooijen N, Lillicrap D, Collen D, VandenDriessche T, Kochanek S (2003). Therapeutic factor VIII levels and negligible toxicity in mouse and dog models of hemophilia A following gene therapy with high-capacity adenoviral vectors. Blood;101(5):1734-1743. ISSN: 0006-4971
Connelly S, Mount J, Mauser A, Gardner JM, Kaleko M, McClelland A, Lothrop CD Jr (1996a). Complete short-term correction of canine hemophilia A by in vivo gene therapy. Blood; 88(10): 3846-3853. ISSN: 0006-4971
Connelly S, Smith TA, Dhir G, Gardner JM, Mehaffey MG, Zaret KS, McClelland A, Kaleko M (1995). In vivo gene delivery and expression of physiological levels of functional human factor VIII in mice. Hum Gene Ther; 6(2): 185-193. ISSN: 1043-0342 ISSN: 1043-0342
Fromovich-Amit Y, Zivelin A, Rosenberg N, Tamary H, Landau M, Seligsohn U. Characterization of mutations causing factor VII deficiency in 61 unrelated Israeli patients. J Thromb Haemost 2004; 2: 1774–81.
International Society on Thrombosis and Haemostasis. Genotypes of patients with factor VII deficiency. 2011. Available at https://c.ymcdn.com/sites/www.isth.org/resource/resmgr/publications/fvii_mutations- 2011.pdf?hhSearchTerms=%22F7%22. Accessed March 11, 2014.
Sudoyo, Aru W, dkk. 2007. Buku Ajar Ilmu penyakit Dalam. Edisi 4, Jilid 1. Jakarta : Departemen Ilmu Penyakit Dalam FKUI.

WFH von Willebrand Disease and Rare Bleeding Disorders Committee (2012). What is factor VII deficiency? World Federation of Hemophilia. http://www.wfh.org/en/page.aspx?pid=665

Pilih Mouthwash Sesuai dengan Kebutuhan Anda


Saat ini berbagai brand dari mouthwash telah beredar dan bersaing di pasaran. Namun tahukah Anda kandungan dari mouthwash yang Anda gunakan? Amankah bagi kesehatan Anda? Perlukah Anda menggunakan mouthwash?
Mencegah gigi berlubang dengan cara menjaga kebersihan mulut salah satunya agar menghilangkan dan menghindari adanya plak yang menempel pada gigi. Plak gigi merupakan sekumpulan mikroorganisme yang merusak gigi yang menempel pada permukaan gigi. Plak pada gigi biasanya dapat dibersihkan dengan sikat gigi dan pasta gigi. Namun terkadang pasta gigi dianggap tidak cukup untuk menghilangkan plak pada gigi sehingga beberapa orang menambahkan mouthwash (obat kumur) setelah menyikat gigi mereka dengan pasta gigi.
Berbagai jenis mouthwash yang beredar di pasaran saat ini memiliki kandungan yang hampir sama. Namun terdapat beberapa kandungan tertentu yang ditambahkan pada suatu jenis mouthwash. Salah satu bahan yang selalu ada pada mouthwash adalah antibacterial agent. Antibacterial agent ini berguna untuk melawan plak-plak yang menempel pada gigi. Contoh antiseptic & antibacterial agent yang digunakan adalah alkohol, chlorhexidine gluconate, cetylpyridinium chloride, hexetidine, benzoic acid, methyl salicylate, triclosan, benzalkonium chloride, methylparaben, hydrogen peroxide, domiphen bromide, dan fluoride yang kesemuanya merupakan kandungan yang aktif pada mouthwash. Antibacterial agent ini pun dapat membunuh beberapa bakteri penyebab plak pada gigi, namun pada penggunaan antibacterial agent yang berlebih, floral normal atau bakteri baik pada mulut pun dapat ikut dimatikan oleh antibacterial agent tersebut.
Beberapa orang memilih untuk menggunakan mouthwash yang mengandung alkohol karena bagi mereka menggunakan mouthwash yang mengandung alkohol terasa lebih segar dan bersih. Namun apakah penggunaan mouthwash dengan alkohol  itu baik untuk Anda?
Beberapa penelitian mengatakan bahwa penggunaan alkohol pada mouthwash dapat memberikan dampak terhadap area mulut. Setelah menggunakan mouthwash yang mengandung alkohol maka area mulut akan terasa kering. Hal ini dikarenakan sifat dari alkohol yang mudah menguap sehingga alkohol bisa menurunkan fungsi saliva menyebabkan penurunan kepekaan rasa pada lidah dalam mempersepsikan makanan. Badan POM juga pernah mengeluarkan artikel pada tahun 2011 mengenai bahaya mouthwash yang mengandung alkohol terhadap anak-anak. Penggunaan mouthwash pada anak-anak tidak dianjurkan, karena jika tertelan, kandungan bahan tambahan alkohol yang ada dapat berisiko keracunan pada anak-anak. Oleh karena itu, mouthwash ini tidak boleh dikonsumsi pada anak dibawah 12 tahun.
Para ahli telah melaporkan dan kemudian dipublikasikan dalam Dental Journal of Australia bahwa mouthwash yang mengandung alkohol memberi 3 kontribusi dalam peningkatan risiko perkembangan kanker rongga mulut. Penelitian internasional telah memperlihatkan pada kebiasaan 3210 orang dan dijumpai bahwa penggunaan mouthwash dengan kandungan alkohol sehari-hari merupakan faktor risiko yang signifikan terhadap perkembangan kanker rongga mulut. Penelitian ini tanpa memperhatikan pengguna mouthwash tersebut perokok atau peminum alkohol.
Namun hal ini juga tidak dapat disimpulkan begitu saja, penggunaan mouthwash dengan beberapa kandungan antiseptic dan antibacterial dibutuhkan pada orang yang memiliki masalah yang sangat besar pada gigi mereka akibat plak. Gigi mereka tidak akan bersih tanpa adanya bantuan mouthwash dengan konsentrasi antiseptic dan antibacterial yang lebih.
Apakah penggunaan mouthwash aman digunakan setiap hari bagi semua orang?
Untuk mencegah timbulnya plak pada gigi bagi orang yang mempunyai kesehatan gigi yang normal, penggunaan mouthwash alami patut dijadikan sebagai bahan untuk pembersih mulut. Contohnya adalah jambu biji, buah delima, teh hijau, daun sirih, dan masih banyak bahan alami lainnya yang bisa digunakan sebagai mouthwash. Bahan-bahan alami tersebut pun telah disebutkan efektif sebagai herbal mouthwash pada artikel penelitian Dr. Bhavna Jha Kukreja dan Dr. Vidya Dodwad pada jurnal internasional Pharma and Bioscience tahun 2012.
Oleh karena itu, sebagai konsumen yang cerdas kita harus pandai melihat apakah kita membutuhkan mouthwash untuk kebersihan mulut kita, dan jika ‘iya’, jenis mouthwash seperti apa yang baik untuk kita gunakan.

Sumber bacaan:
Rosenberg, M; Gelernter, I; Barki, M; Bar-Ness, R (1992). "Day-long reduction of oral malodor by a two-phase oil: water mouthrinse as compared to chlorhexidine and placebo rinses". Journal of periodontology 63 (1): 39–43. doi:10.1902/jop.1992.63.1.39.PMID 1552460.
John Toedt, Darrell Koza, Kathleen Van Cleef-Toedt (2005), Chemical composition of everyday products (illustrated ed.), Greenwood Publishing Group, pp. 48–49, ISBN 9780313325793
Ribeiro, L; Hashizume, L; Maltz, M (2007). "The effect of different formulations of chlorhexidine in reducing levels of mutans streptococci in the oral cavity: A systematic review of the literature". Journal of Dentistry 35 (5): 359–70.doi:10.1016/j.jdent.2007.01.007. PMID 17391828
http://drbenkim.com/articles/triclosan-products.htm                                                   
Badan POM RI. 2011. Dua Sisi Iklan Obat Antara Kreativitas dan Obyektivitas.
Kukreja, Bhavna Jha dan Dodwad, Vidya. 2012. Herbal Mouthwashes – A Gift Of Nature. International Journal of Pharma and Bioscience.