"Perempuan untuk apa sih sekolah tinggi-tinggi kalau ujungnya jadi ibu rumah tangga juga..?"
Mungkin diantara kita pernah mendengarkan bahkan menanyakan hal itu.
Tidak sedikit orang yang beranggapan bahwa wanita hanya memiliki kodrat untuk mengurus rumah tangga, suami dan anak.
"Wanita tidak butuh skill dan background pendidikan yang tinggi untuk mengurus rumah tangga, mereka hanya harus pandai bekerja di dapur, memasak, mencuci, membersihkan rumah, dan lainnya..". Pernyataan ini pun membuat saya tergugah untuk menulis kembali ke blog ini.
Memang benar, wanita harus pandai dalam mengurus rumah tangganya, suami dan anak-anaknya. Tapi untuk menciptakan kondisi rumah tangga yang baik dan nyaman, menjadikan anak-anaknya menjadi anak yang soleh dan solehah serta cerdas mereka membutuhkan skill dan pengetahuan yang banyak.
Mungkin beberapa orang pernah membaca ataupun mendengar bahwa madrasah pertama anak-anak kita adalah kita, ibu mereka. Untuk memberikan ilmu dan pengetahuan yang baik bukankah madrasah yang mereka punya harus berkualitas baik? Bahkan kita berusaha memberikan kualitas yang sangat baik.
Sebelum memasuki masa sekolah, ibu merupakan guru pertama bagi mereka. Apa yang mereka lihat dan dengar setiap hari dari ibunya merupakan pembelajaran baru bagi mereka. Buah takkan jatuh jauh dari pohonnya. Itu mungkin menjadi penggambaran yang tepat.
Bagi wanita, seharusnya belajar merupakan hal yang tidak boleh lepas dari diri mereka. Mereka adalah pemberi saran dan kenyamanan bagi suaminya, guru pertama dan guru yang setia bagi anak-anaknya, mereka adalah pencipta kenyamanan dalam rumah tangga mereka.
Karena saya bergerak pada bidang genetika, perlulah semua calon ibu tahu bahwa mereka memiliki faktor genetik bagi kecerdasan anak-anaknya.
Kembangkan potensi sebagai wanita untuk membuat anak-anak menjadi cerdas. Pendidikan yang tinggi bukanlah hal yang tabuh bagi wanita.
Sudahkah Anda belajar hal-hal baru hari ini?