Senin, 21 September 2015

Calon Madrasah Pertama Bagi Mereka kelak..

"Perempuan untuk apa sih sekolah tinggi-tinggi kalau ujungnya jadi ibu rumah tangga juga..?"
Mungkin diantara kita pernah mendengarkan bahkan menanyakan hal itu. 
Tidak sedikit orang yang beranggapan bahwa wanita hanya memiliki kodrat untuk mengurus rumah tangga, suami dan anak.
"Wanita tidak butuh skill dan background pendidikan yang tinggi untuk mengurus rumah tangga, mereka hanya harus pandai bekerja di dapur, memasak, mencuci, membersihkan rumah, dan lainnya..". Pernyataan ini pun membuat saya tergugah untuk menulis kembali ke blog ini.
Memang benar, wanita harus pandai dalam mengurus rumah tangganya, suami dan anak-anaknya. Tapi untuk menciptakan kondisi rumah tangga yang baik dan nyaman, menjadikan anak-anaknya menjadi anak yang soleh dan solehah serta cerdas mereka membutuhkan skill dan pengetahuan yang banyak. 
Mungkin beberapa orang pernah membaca ataupun mendengar bahwa madrasah pertama anak-anak kita adalah kita, ibu mereka. Untuk memberikan ilmu dan pengetahuan yang baik bukankah madrasah yang mereka punya harus berkualitas baik? Bahkan kita berusaha memberikan kualitas yang sangat baik.
Sebelum memasuki masa sekolah, ibu merupakan guru pertama bagi mereka. Apa yang mereka lihat dan dengar setiap hari dari ibunya merupakan pembelajaran baru bagi mereka. Buah takkan jatuh jauh dari pohonnya. Itu mungkin menjadi penggambaran yang tepat.
Bagi wanita, seharusnya belajar merupakan hal yang tidak boleh lepas dari diri mereka. Mereka adalah pemberi saran dan kenyamanan bagi suaminya, guru pertama dan guru yang setia bagi anak-anaknya, mereka adalah pencipta kenyamanan dalam rumah tangga mereka.
Karena saya bergerak pada bidang genetika, perlulah semua calon ibu tahu bahwa  mereka memiliki faktor genetik bagi kecerdasan anak-anaknya. 
Kembangkan potensi sebagai wanita untuk membuat anak-anak menjadi cerdas. Pendidikan yang tinggi bukanlah hal yang tabuh bagi wanita. 

Sudahkah Anda belajar hal-hal baru hari ini?


Selasa, 15 September 2015

Cinta dalam Secangkir Kopi dan Coklat Hangat

Aku penikmat coklat, kamu penikmat kopi. Kamu suka coklat, namun tak sesuka pada kopi. Aku pun sama, aku suka kopi namun tak sesuka saat aku meneguk coklat. Mungkin karena sering bersama-sama, aku menjadi seperti ini. Cangkir coklatku yang dulu dingin dan kosong, kini terisi dan hangat kembali. Terima kasih telah mengisi dan menghangatkan kembali.
Rasanya tak ingin cepat-cepat menghabiskan  kopi ataupun cokelat hangatku saat bersama. Walaupun aku tau, aku sangat ingin untuk meneguknya di setiap detik.
Apa lagi ketika kita duduk bersama hujan. Kombinasi yang sempurna bagi kita berdua sebagai penikmat petrichor.

***

Berikan aku rintik hujan, coklat hangat, dan hadirmu.. -HanPay

Senin, 14 September 2015

Terima Kasih

"Terima kasih banyak atas bantuannya, pak, bu, mas, mba, .."
'Terima kasih', kata yang cukup sulit diungkapkan oleh kebanyakan orang. Entah itu karena gengsi atau karena terlalu bahagia sampai lupa untuk berterimakasih.
Semenjak saya menginjakkan kaki di kota hujan, orang-orang sekitar saya banyak mengajarkan kepada saya bagaimana cara berkomunikasi dengan orang-orang kota ini. Ya, jujur saja, saya yang berasal dari kota Daeng pun masih kaku untuk berkomunikasi untuk 6 bulan pertama. Sebulan pertama pun saya masih banyak diam karena beradaptasi dan belajar bagaimana kebiasaan orang-orang kota ini. 
"Terima kasih,bapaaak.." ucapan ceria Ipi sambil memberikan karcis masuk ke salah satu satpam kampus. Ipi adalah sahabat saya di kota ini. Kebetulan, dia orang asli sini. Bagi saya, Ipi  mengajarkan banyak banyak banyak hal. 
Tidak hanya Ipi, beberapa teman lainnya pun bahkan dosen sendiri sudah terbiasa mengucapkan kata 'terima kasih'. Karena terbiasa dengan ucapan itu, setiap hari pasti tidak terlepas dengan terima kasih.
Ya, memang seharusnya, apa lagi berterima kasih kepada Tuhan. Nah, kalau itu memang wajib.
Sebelum saya ke kota ini pun saya sering menyampaikan rasa terima kasih saya kepada orang-orang yang telah membantu saya. Namun kota ini mengajarkan lebih dari itu. Mengajarkan bahwa setiap orang, siapa pun itu, baik ia lebih tua ataupun lebih muda, sekecil apapun yang mereka berikan, penghargaan terhadap sesamapun harus tetap selalu ada. 
Dan saya sangat merasakan dampak dari berterima kasih setiap hari. Orang-orang menjadi lebih care, dan mood pun (tentu saja) ikut terbangun.
Tak ada alasan untuk tidak mengatakan 'terima kasih'. Satu ucapan yang bisa membuat hari kita lebih baik. Bahkan jauh lebih baik.

Sudahkah hari ini kita mengucapkan terima kasih kepada mereka? :)