Sebagai warga Indonesia, kita dapat menilai
kondisi Indonesia saat ini. Produktifkah kita? Atau kita masih bergantung dari
pihak luar? Sejahterakah petani kita? Pengangguran menurun? Dan masih banyak
pertanyaan lainnya yang menunggu jawaban kita.
Saat ini masih sering kita
mendengar pro dan kontra mengenai produk-produk transgenik. Namun tahukah Anda
bahwa produk impor seperti buah-buahan, kedelai, jagung, daging, dan sebagainya
sebagian besar merupakan hasil dari tanaman transgenik. Bila dilihat secara
fisik, kedelai lokal dan kedelai impor hasil transgenik dapat dibedakan dari
ukuran dan bentuknya. Umumnya produk transgenik memiliki ukuran buah atau biji
yang lebih besar dan bentuk yang bagus. Namun, apakah masih ada yang menentang
masuknya produk-produk tersebut ke Indonesia? Perlu kita pahami bahwa zaman
mulai berubah. Apakah lahan pertanian kita cukup memberi makan jutaan manusia? Kini
lahan-lahan pertanian telah berubah menjadi deretan rumah dan ruko yang
terlihat mewah. Dan tak banyak orang yang sadar akan hal tersebut.
Banyak orang yang ketakutan
bila mendengar kata ‘transgenik’. Dan hampir semuanya memiliki ketakutan yang
sama, takut dengan timbulnya berbagai penyakit, terutama timbulnya alergi.
Namun sumber alergi itu bisa terdapat di seluruh makan, tidak hanya pada produk
trangenik.
Produk transgenik yang masih
dalam bentuk buah atau biji memang mudah diketahui. Namun bila telah menjadi
bahan yang telah diolah seperti kecap, sereal, dan sebagainya akan sulit
diketahui kecuali melalui analisis laboratorium. Namun itu pun masih sulit
untuk mendapatkan bahan genetik dari bahan hasil olahan seperti itu.
Menurut mantan ketua YLKI
Huzna Zahir, pihaknya telah menguji di laboratorium genetik mengenai sejumlah
makanan yang berbahan kedelai, jagung, kentang, dan gandum.sejak tahun 2002
hingga 2005. Baik yang beredar di pinggir jalan seperti tempe dan tahu, makanan
ringan, hingga susu formula bayi di supermarket. Dan hasilnya adalah sejumlah
produk makanan positif mengandung bahan transgenik.
Karena telah banyaknya
produk transgenik yang telah beredar di seluruh dunia, peneliti-peneliti
Indonesia setidaknya juga dapat mengembangkan produk rekayasa genetikanya
sendiri, terkhusus lagi di bidang pangan. Bila hal ini dilakukan maka negara
kita dapat menekan produk-produk impor yang masuk ke Indonesia. Peneliti
Indonesia harus mengembangkan ilmu yang mereka telah dapatkan dan
mengaplikasikannya dengan baik di Indonesia. Namun pengujian keamanan produk
tersebut tetap harus dilakukan. Peraturan
pemerintah juga sudah menunjuk Tim Teknis Keamanan Hayati dan Keamanan Pangan
(TTKHKP) di bawah Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI).
Namun karena adanya pro dan
kontra mengenai produk transgenik, para peneliti pun sangat jarang yang ingin
mengembangkan hasil penelitian mereka mengenai produk transgenik. sedangkan di
sisi lain, keadaan Indonesia sangat mengkhawatirkan. Salah satunya adalah
produk impor tadi. Dengan adanya hasil tangan dari orang Indonesia sendiri
tanpa bergantung dengan negara lain, kita bisa memperlihatkan bahwa orang-orang
Indonesia memang memiliki potensi yang kuat yang tidak hanya diperlihatkan pada
saat memenangkan olimpiade, menerbitkan jurnal-jurnal, dan hal-hal lainnya yang
telah mengharumkan negara Indonesia.
Sangat disayangkan bahwa
perkembangan ilmu pengetahuan di Indonesia dihalangi oleh orang Indonesia
sendiri tanpa melihat dan mencari tau kebenaran yang ada. Bahkan tidak melihat
manfaat apa saja yang dapat kita peroleh dengan mengembangkan ilmu pengetahuan
tersebut. Pengembangan ilmu pengetahuan tersebut bisa saja menurunkan jumlah
bahan yang diimpor, tingkat pengangguran, mensejahterakan petani, dan hal
lainnya.
Dapatkah Anda menghindari
produk tersebut ? Jadi, mungkin saja sudah beribu-ribu bahkan berjuta-juta
produk transgenik yang telah kita konsumsi selama bertahun-tahun.
Melihat kondisi Indonesia
sekarang apakah Anda masih ingin menolak produk tersebut untuk dikembangkan di
Indonesia?