Senin, 15 Juni 2015

Produk Transgenik: Konsumen yang cerdas kah Anda?

Sebagai warga Indonesia, kita dapat menilai kondisi Indonesia saat ini. Produktifkah kita? Atau kita masih bergantung dari pihak luar? Sejahterakah petani kita? Pengangguran menurun? Dan masih banyak pertanyaan lainnya yang menunggu jawaban kita.
Saat ini masih sering kita mendengar pro dan kontra mengenai produk-produk transgenik. Namun tahukah Anda bahwa produk impor seperti buah-buahan, kedelai, jagung, daging, dan sebagainya sebagian besar merupakan hasil dari tanaman transgenik. Bila dilihat secara fisik, kedelai lokal dan kedelai impor hasil transgenik dapat dibedakan dari ukuran dan bentuknya. Umumnya produk transgenik memiliki ukuran buah atau biji yang lebih besar dan bentuk yang bagus. Namun, apakah masih ada yang menentang masuknya produk-produk tersebut ke Indonesia? Perlu kita pahami bahwa zaman mulai berubah. Apakah lahan pertanian kita cukup memberi makan jutaan manusia? Kini lahan-lahan pertanian telah berubah menjadi deretan rumah dan ruko yang terlihat mewah. Dan tak banyak orang yang sadar akan hal tersebut.
Banyak orang yang ketakutan bila mendengar kata ‘transgenik’. Dan hampir semuanya memiliki ketakutan yang sama, takut dengan timbulnya berbagai penyakit, terutama timbulnya alergi. Namun sumber alergi itu bisa terdapat di seluruh makan, tidak hanya pada produk trangenik.
Produk transgenik yang masih dalam bentuk buah atau biji memang mudah diketahui. Namun bila telah menjadi bahan yang telah diolah seperti kecap, sereal, dan sebagainya akan sulit diketahui kecuali melalui analisis laboratorium. Namun itu pun masih sulit untuk mendapatkan bahan genetik dari bahan hasil olahan seperti itu.
Menurut mantan ketua YLKI Huzna Zahir, pihaknya telah menguji di laboratorium genetik mengenai sejumlah makanan yang berbahan kedelai, jagung, kentang, dan gandum.sejak tahun 2002 hingga 2005. Baik yang beredar di pinggir jalan seperti tempe dan tahu, makanan ringan, hingga susu formula bayi di supermarket. Dan hasilnya adalah sejumlah produk makanan positif mengandung bahan transgenik.
Karena telah banyaknya produk transgenik yang telah beredar di seluruh dunia, peneliti-peneliti Indonesia setidaknya juga dapat mengembangkan produk rekayasa genetikanya sendiri, terkhusus lagi di bidang pangan. Bila hal ini dilakukan maka negara kita dapat menekan produk-produk impor yang masuk ke Indonesia. Peneliti Indonesia harus mengembangkan ilmu yang mereka telah dapatkan dan mengaplikasikannya dengan baik di Indonesia. Namun pengujian keamanan produk tersebut tetap harus dilakukan. Peraturan pemerintah juga sudah menunjuk Tim Teknis Keamanan Hayati dan Keamanan Pangan (TTKHKP) di bawah Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI). 
Namun karena adanya pro dan kontra mengenai produk transgenik, para peneliti pun sangat jarang yang ingin mengembangkan hasil penelitian mereka mengenai produk transgenik. sedangkan di sisi lain, keadaan Indonesia sangat mengkhawatirkan. Salah satunya adalah produk impor tadi. Dengan adanya hasil tangan dari orang Indonesia sendiri tanpa bergantung dengan negara lain, kita bisa memperlihatkan bahwa orang-orang Indonesia memang memiliki potensi yang kuat yang tidak hanya diperlihatkan pada saat memenangkan olimpiade, menerbitkan jurnal-jurnal, dan hal-hal lainnya yang telah mengharumkan negara Indonesia.
Sangat disayangkan bahwa perkembangan ilmu pengetahuan di Indonesia dihalangi oleh orang Indonesia sendiri tanpa melihat dan mencari tau kebenaran yang ada. Bahkan tidak melihat manfaat apa saja yang dapat kita peroleh dengan mengembangkan ilmu pengetahuan tersebut. Pengembangan ilmu pengetahuan tersebut bisa saja menurunkan jumlah bahan yang diimpor, tingkat pengangguran, mensejahterakan petani, dan hal lainnya.
Dapatkah Anda menghindari produk tersebut ? Jadi, mungkin saja sudah beribu-ribu bahkan berjuta-juta produk transgenik yang telah kita konsumsi selama bertahun-tahun.

Melihat kondisi Indonesia sekarang apakah Anda masih ingin menolak produk tersebut untuk dikembangkan di Indonesia?