"Become friends with people who aren’t your age. Hang out with people whose first language isn’t the same as yours. Get to know someone who doesn’t come from your social class. This is how you see the world. This is how you grow."
(Photo by Suherah Saleh, 2014).
Banyak orang yang mengatakan bahwa tidak mudah untuk berkomunikasi dengan orang yang tidak sejaman dengan kita. Kita lahir di era 90-an, mereka ada di era 60-an, atau di era yang lainnya. Siapa bilang kita tidak sejaman dengan mereka? Sekarang kita berada di era yang sama. Hanya karena alasan rentang umur yang sangat jauh, kita menganggap mereka tak bisa sehebat ataupun segaul kita.
***
Ketika kita bertemu dengan seseorang yang terlihat seumur dengan orangtua kita dan mengobrol tentang sesuatu, beberapa di antara kita pasti berbisik dalam hati, "Pemikiran orang ini kok kolot amat, jaman sekarang masih pake cara kayak gitu. Gak jaman coy.." Oke, kita boleh berpendapat seperti itu, tapi apakah kita akan menolak semua tanggapannya?
Sama halnya ketika kita berdiskusi dengan teman-teman sebaya. Kita kadang tidak sependapat dengan perkataan mereka karena hal ini atau hal itu. Dan terkadang kita salah mengambil kesimpulan.
***
Pernahkah kita berdiskusi panjang mengenai sesuatu hal bersama ibu atau ayah atau tante atau om kita atau orang lain yang kita anggap jauh lebih tua dari kita? Bagi yang sering, pasti sangat merasakan manfaat dari sharing bersama mereka.
***
Biasanya di antara teman-teman kita ada yang sering diejek anak mami, sok tua, muka boros, ataupun lainnya. Dan memang terkadang yang mereka sering berikan adalah pendapat yang benar. Dan saya pun punya teman semasa duduk di bangku SMP yang sikapnya sama. Setelah saya kepo baik-baik, ternyata dia sering berdiskusi dengan kedua orangtuanya mengenai apapun. Hingga membuat kepribadiannya menjadi tampak lebih dewasa dibandingkan kami teman-temannya.
Karena menganggap teman saya itu terlihat cool bukan 'muka boros' seperti yang dikatakan teman-teman lainnya, saya mengikuti cara dia yang sering share dengan orangtua, sampai-sampai tante saya pun saya ajak untuk berdiskusi ketika datang ke rumah. - Ketika nonton tv bersama, mengomentari hal-hal yang ditonton dan saling mengemukakan pendapat. Dan benar, saya lebih banyak bisa berpendapat dibandingkan dengan teman-teman lainnya. Rasanya lebih percaya diri untuk berbicara dan berpendapat.
***
Sharing dengan orang yang jauh lebih tua memang banyak baiknya. Pengetahuan kita bertambah dan kemampuan kita untuk berpendapat pun meningkat.
***
Hingga akhirnya saya masuk ke perguruan tinggi negeri strata satu. Berkenalan dengan teman-teman dari berbagai daerah asal. Tidak hanya teman-teman sebaya, saya pun berkenalan dengan pegawai-pegawai kampus yang pernah saya temui. Hingga akhirnya ketika saya menjadi sarjana dan mengunjungi kampus, saya masih punya teman baik untuk diajak mengobrol di tempat yang saya kunjungi. Beberapa teman pun pernah berbisik, "Han, kamu itu kenapa bisa seakrab itu dengan mereka?". "Yah, kampuslah yang mengakrabkan kami.."
***
Membuat sebuah pertemanan tidak memerlukan syarat umur.
***
Setelah lulus, saya mengikuti pelatihan di suatu institusi. Ketika masuk ke dalam kelas, tadaaaaaa, teman-teman baru. Tebak saja, teman baru saya siapa....
Pelatihan ini diadakan sama halnya kita sedang mengikuti perkuliahan. Dan teman-teman baru saya adalah dosen-dosen hebat, manager, bahkan profesor pun ada. Seketika pun saya merasa hebat berada di ruangan itu.
Karena merasa kami berada dalam posisi yang sama, yaitu sebagai peserta, langsung saja saya berusaha mengakrabkan diri. Hingga akhirnya mereka menjadi teman yang sangat baik walaupun pelatihan telah berakhir. Sampai kini pun kami masih sering berkomunikasi walaupun bidang dan umur kita sangatlah jauh berbeda.
***
Sekali lagi, umur bukanlah syarat untuk membuat suatu pertemanan yang luar biasa.
Berteman dengan mereka yang jauh lebih tua justru banyak manfaatnya. Salah satunya, sering ditraktir.. hehehee...
***
Mereka juga sahabat bagi generasi muda.
Share, Discuss, Stay connected

Tidak ada komentar:
Posting Komentar