Jumat, 23 Oktober 2015

Layu bersama Bahagia

Malam makin larut, Luna tidak mampu terlelap. Ia terjaga hingga pagi. Ia tak sedang memikirkan apapun. Tak sedang mengerjakan apapun. Ia hanya duduk lalu kadang berbaring. Entah apa yang ia rasakan. Mungkin ia gelisah. Akhirnya ia menarik selimut dan menutupi seluruh tubuhnya. Namun tak kunjung pula ia terlelap. 
***
Keesokan harinya Luna kembali berusaha untuk terlelap. Namun entah perasaan gelisahnya mulai bertambah. Luna merasa seperti berada di tengah laut yang hanya bersama dengan sekoci. Terombang ambing mengikuti ombak. Hanya bertemankan butiran-butihan buih. Tak ada tepian yang terlihat. Tak ada kapal lain. Ia hanya seorang diri.
***
Hari berikutnya Luna mulai bisa memenjamkan matanya. Terpejam walau hanya beberapa menit. Gelisahnya pun mulai mereda. Guling kesayangannya pun tak ia lepas. Namun tiba-tiba air matanya memaksa ia untuk segera bangun dari tidur. Entah itu air mata bahagia atau kesedihan. Ia lalu meneguk air agar tenang.
***
Hari-hari berikutnya, Luna mulai makin terlelap. Matahari menjemput Luna di balik tirai kamarnya. Dibukanya sedikit tirai itu. Nampak sosok pria jakung berkulit putih baru sedang berbenah barang di depan rumahnya. Luna melihat dengan seksama. pria itu tetangga barunya. Pria itu melihatke arah jendela Luna. Dengan cepat Luna menutup tirainya. 
***
Sudah seminggu Luna tidak keluar dari rumahnya. Selasa, 11 November 2014, Luna harus bergegas menuju tempat kerjanya. Ia harus mempersiapkan pakaian-pakaian terbaru untuk acara fashion untuk dua minggu kedepan.
***
Luna melangkah keluar dari rumah. Dia melihat pria jakung itu kembali. Pria itu sedang membereskan mobilnya. Luna cepat dalam setiap langkahnya. Namun, suara asing terdengar, "Lunaaa..". Luna berbalik, dan hanya nampak pria itu. Luna tak yakin pria itu yang memanggil namanya. Lalu Luna hanya tersenyum kemudian berbalik dan segera naik ke bus yang berada di depannya. 
***
Luna menghitung tiap detak detik jam tangannya. Ia sedang duduk menunggu sahabatnya. Sesekali ia meneguk teh yang ia pesan. "Luna, Sorry, Am  I late?". Luna tersenyum dan mereka menghabiskan waktu mereka dengan perbincangan yang begitu hangat. 
"Lunaa..?" Suara yang sepertinya tidak asing bagi Luna. Luna menoleh ke kiri. Ia melihat pria tetangga barunya itu duduk tepat di sebelah meja mereka. Luna kali ini  tak tersenyum sedikitpun. Dahinya pun terlihat agak mengerut. Luna pasti sedang memikirkan siapa pria ini. 
"Hi Lun. You forget me? Kita memang sudah lama tak melanjutkan percakapan di aplikasi perkenalan itu..". Seketika Luna tersenyum dan mengingat siapa pria ini. Akhirnya mereka berada dalam meja yang sama. Luna, Karina (sahabat Luna), Tam (Teman chat Luna), dan Yoga (teman Tam). 
"Lun, kita pulang bareng aja. Rumah kita kan sudah kayak pasangan yang lagi ngedate. Hadap-hadapan maksudnya.". Luna pun tertawa. Yoga dan Luna pun pulang bersama. 
***
"Lun, setelah jam kantor, boleh kita mengobrol di cafe seberang kantor kamu?". Luna membaca isi pesan di ponselnya, namun tanpa nama. Luna meng-iya-kan. Akhirnya Luna bertemu dengan sang pemilik pesan. "Hai, Lun, How was your day?" - "Ya, tak buruklah. Kamu gimana, Yoga?"
Yoga, sahabat Tam, telah lama mengenal Luna. Yoga mengenal Luna sejak mereka bertemu dalam acara seminar dua tahun lalu. Mereka dulunya berada di Universitas yang sama. 
***
Hampir setiap hari Luna dan Yoga bertemu dan mengobrol seusai jam kerja mereka. Mereka nampaknya cocok. Kini Luna sudah melupakan kegelisahan yang membuatnya sulit untuk terlelap. Kini dia merasakan kembali lelapnya tidur.
***
"Lun, Sabtu besok sibuk gak?" - Pesan Yoga masuk ke ponsel Luna. Namun Yoga tak kunjung mendapat balasan dari Luna. Sembari menunggu balasan dari Luna, Yoga menyimpan seikat bunga mawar dalam vas yang berisi air yang sesekali ia sentuh. 
***
"Luna, apa kabar?" - Yoga mengirimkan pesan kedua pada Senin. Namun tak ada juga balasan dari Luna.
"Tam, kamu pernah bertemu dengan Luna akhir-akhir ini?" - Yoga mencoba menanyakan pada Tam melalui telepon. Namun Tam juga belum pernah bertemu dengan Luna lagi. Dua jam kemudian Tam menelpon Yoga. Yoga berlari masuk ke dalam mobil lalu menancap gas. 
"Luna, pantas saja kamu tak pernah mengabariku.." Suara Yoga bergetar memandang Luna yang terbaring. Luna nampak terlelap seperti sedang bermimpi. 
"Tiga minggu lalu Luna mengaku sulit untuk tidur. Namun empat hari yang lalu dia nampak senang dan sudah bisa tidur dengan nyaman. Dan sudah tiga hari ini dia belum membuka matanya. Kata dokter Luna koma karena cairan di otaknya nampaknya sudah mengganggu penglihatan Luna dan sekarang Luna tidak sadarkan diri" - Ibu Luna berusaha tegar menceritakannya kepada kami yang menjenguk Luna di rumah sakit.
***
Dua hari telah berlalu, belum ada kabar membahagiakan dari keadaan Luna. Yoga menuju ke mobil membawa seikat bunga mawar yang ia taruh dalam vas waktu itu. Bunga itu sudah layu. Layu dan tak ada aroma manis lagi padanya.
Sesampainya di rumah sakit, Yoga bergegas menuju depan kamar inap Luna. Semua orang menunduk dan mengeluarkan air mata. Luna telah tertidur lelap untuk selamanya. Tidur lelap yang didambakan Luna benar-benar lelap hingga benar-benar ia tak bisa membuka mata lagi.
Seketika suasana menjadi begitu hening. Hanya ada air mata yang mengalir.
Yoga kembali ke mobil. Ia duduk sejenak untuk tenang. 
Tam berlari mengikuti Yoga, lalu ikut masuk ke dalam mobil. "Di percakapan kami setahun yang lalu itu, Luna selalu bercerita sejak lama ia ingin mengenalmu lebih jauh namun ia belum pernah bertemu denganmu lagi. Dan kini, ia sudah. Kamu pun sahabatku, yang aku baru saja tau kalau pria yang dimaksud Luna adalah kamu ketika kita semua dipertemukan di cafe itu. Tuhan sudah merencanakan perjalanan kalian. Seperti bunga ini. Kamu simpan dan jaga ia baik-baik, namun Tuhan berkata lain. Bunga ini lebih bahagia layu. Seperti Luna, mungkin ia lebih bahagia untuk terlelap yang ia maksudkan setelah ia bertemu dengan orang yang ia dambakan yang mungkin sering ia sebutkan dalam doanya."

*tamat   

Tidak ada komentar:

Posting Komentar