Selasa, 18 Agustus 2015

Hujan, Petrichor, dan Cokelat Hangat

Rasanya sudah lama tak bercerita tentang petrichor. Kali ini saya kembali lagi untuk membahas petrichor-petrichor yang telah lalu. Telah lalu? yah, karena kini kemarau panjang telah tiba dan sepertinya si el nino akan hadir hingga Januaritahun depan tiba. 
Sedih rasanya ketika beberapa orang membenci hujan. Dan sekarang, mereka menanti-nantikannya. Walaupun terkadang hujan menghalangi aktivitas, namun ia tak patutlah dibenci. Hujan memberi banyak kehidupan. Lalu bagaimana kalau banjir? Nah, sebelum saya menjelaskannya, apakah sewaktu menginjak sekolah dasar kita tidak diajarkan sebab dari banjir itu? Hujan kah penyebabnya? 
Kebanyakan orang menyalahkan hujan sebagai penyebab bencana, contohnya saja banjir. Mereka tidak sadar apa yang telah mereka lakukan sebelum hujan datang. Dan saat kemarau tiba, mereka menginginkan kedatangannya. Kalau hujan bisa ngomong, "Helloww, ya kali gue lo tuduh tapi lo butuh gue juga" .. (aaah, tak usah logad Han.. hahahaa)
Eh iya, melenceng dari judul ya.. (maap)
Kali ini saya benar-benar  merindukan petrichor. Bau setelah hujan yang menyejukkan. Seperti telah memberikan kehidupan lagi kepada semuanya. Entahlah, saya berpijak di kota hujan, namun sudah berapa lama hujan tak kunjung bertamu di kota ini. Yang dulunya sejuk kini kering dan kadang menggerahkan.
Saya rindu akan gemericik hujan yang seolah-seolah membuat nada mengalun bersama aliran airnya dan kemudian tercipta petrichor yang memberikan aroma kesejukan. Saya telah nikmati semua itu bersama cokelat hangat yang menjadi sahabat cerita setia yang memaksa saya membuka kotak-kotak memori yang selalu membuat para perantau menaruh rindu yang berat pada kampung halaman.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar